PKM Sore Itu

--pariwara--
Tampak seorang ibu yang mendekatiku, pembicaraan singkat itu mampu mencairkan suasana hatiku yang sedang panas. Rasa lelah selama mengantri terbayar dengan senyuman indahnya. Ingin sekali aku memeluk ibu tersebut, aku rindu akan sosok ibu yang kini terbentang jarak antara aku dengannya. Ibu di bali aku di situbondo. Sekitar 1 bulan lebih aku tak berjumpa dengannya. Hanya sesekali bicara melalui telpon. Namun sekarang ibu sedang di rudung masalah. Aku sendiri sudah terbiasa menghadapi masalah yang akan terus membuatku semakin dewasa.
            Masih ku ingat raut wajah ibu yang menemaniku menunggu jemputan temanku. Ia seperti mengerti kondisiku yang sangat lelah mengantri untuk registrasi mahasiswa baru.

“ Gimana sudah selesai semua dhek “ Tanyanya membuka pembicaraan.
“ Belum bu, saya tak mengira bakalan lama. Sepertinya perjuangan saya sia-sia. Dari jam 6.30 antri, dan ketika masuk daftar tungu loketnya sudah di tutup “
“ O gitu ya, kog lama sih. Anak ibu juga dari tadi “
“ Kata teman saya yang selesai, di dalam itu ada beberapa meja bu. Mulai dari meja 1 sampai 6. Setiap meja itu mempunyai tugas yang berbeda-beda. Mulai dari administrasi, berphoto untuk KTM dan lain-lain “
“ Ooo kamu orang jember dhek ? “ Tanyanya lagi.
“ Situbondo bu “ Jawabku singkat.
“ sejak kapan disini “
“ Kemarin nginep di hotel seroja bu, gak tahu sekarang tinggal dimana. Soalnya tadi jam 1 siang waktu chek outnya “
“ Kamu belum makan ? Soal itu gampang nginep di rumah ibu saja dulu”
“ Iya bu belum makan, kurang tahu ya bu, tidak dhe bu. Pasti saya akan merepotkan ibu“
“ Makan dulu ya Nak, tapi tunggu anak ibu dulu “
“Makasih ya bu, anak ibu jurusan apa ? “
         “ Kedokteran nak “

Tiba-tiba hujan datang membunuh pembiraan ini, aku kedinginan sementara aku hanya membawa baju 1, akupun menceritakan keadaan bajuku itu. Dan kembali ibu itu bersimpati padaku. Beliau menawari aku baju anaknya, namun tiba-tiba temanku datang menjemputku. Aku langsung pamit pada ibu itu. Aku mencium tangan ibu tersebut dengan takzim.
“ Tunggu dulu Nak “
“ Kenapa bu ? “
“ Ini untuk kamu “ Kata ibu itu memberikan uang seratus ribu.
“ Tidak usah bu “
“ Sudah ambil saja untuk makan besok”

Aku tak menyangka ibu tersebut sangat baik dan perhatian padaku padahal ia sama sekali tak mengenaliku. Sayang aku tak sempat menanyakan namanya dan juga nama anaknya. Tapi dalam hatiku, aku sudah panjatkan doa pada-Nya. Semoga Allah membalas kebaikan ibu tersebut. Dan aku yakin suatu saat nanti aku bisa kembali bertemu dengan ibu itu tinggal menunggu waktu saja.

Raut wajah ibu itu hampir sama dengan ibuku, sampai gaya bicaranya pun sama. Makanya aku merasa tidak canggung untuk menceritakan kejadian selama mengantri. Wajah teduhnya itu seperti wajah teduh ibu. Ingin rasanya aku menangis dalam pelukannya. Namun aku kembali sadar, ia bukan ibuku. Ibuku sedang bekerja di sebuah kota yang tidak terlalu jauh dari kotaku.
Rasa rindu kembali memuncak, ketika sampai di kost-an teman untuk ngampung menginap. Aku kembali memutar lagu rindu yang biasa ku dengar.

Ibu ku sayang... Sayangilah aku Ibu ku cinta...
Cintailah aku
Laguku ini tentang rindu Ibu
Pada saat Ibu tak disisiku
Berbagai macam rasa Ku rindukan dia

Ku butuh tangan Ibu
Menghapus air mataku
Dikala ku bersedih
Dan menghiburku dikala ku berduka

Dimana kau berada Ibuku tercinta
Kurindu belaian kasih sayang Ibu

Dimana kau berada Ibuku tercinta
Kurindu belaian kasih sayang Ibu

Ku butuh tangan Ibu
Menghapus air mataku
Jika aku bersedih
dan Menghiburku dikala ku berduka

Ibuku sayang... Sayangilah aku Ibuku cinta... Cintailah aku

Ibuku sayang... Sayangilah aku Ibuku cinta... Cintailah aku

Lagu ku ini tentang rindu Ibu Pada saat Ibu tak sisiku Berbagai macam rasa Kurindukan dia

            Lagu yang dilantunkan oleh penyanyi cilik, tegar. Lagu tersebut serring sekali aku putar. Ketika mengingat ibu. Oh ibu, sampai kapan aku harus menahan rasa rindu ini ?
            Ibu adalah telaga yang mempunyai banyak warna untuk menghiasi hidupku. Di balik sesosok lelaki besar, ada seorang perumpuan yang selalu medukung dan mendoakannya. Dialah ibu. Masih ku ingat beberapa pesannya. Bagiku ibu adalah segalanya. Semua petuahnya akan selalu aku kenang dan ku ingat.
            Apalagi sekarang aku tak berada di sampingnya ? Rasa rindu sering ada dalam benakku ? tapi aku sudah paham kondisi tersebut, ibu pindah kota karena ia sedang mencari uang. Jika tetap berada di sini. Ia tak mungkin bisa mendapat uang untuk menjawab semua kebutuhan keluarga.
            Rasa rindu itu kembali memuncak, ketika aku bertemu dengan sesosok ibu di PKM Universitas Jember, aku langsung mengingat dan mencoba menulis kisah ini.

***
Birrul walidain atau berbakti kepada orang tua adalah hal yang diperintahkan dalam agama. Oleh karena itu bagi seorang muslim, berbuat baik dan berbakti kepada orang tua bukan sekedar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun juga memenuhi norma agama, atau dengan kata lain dalam rangka menaati perintah AllahTa’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36). Perhatikanlah, dalam ayat ini Allah Ta’ala menggunakan bentuk kalimat perintah. Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya) : “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua..”(QS. Al An’am: 151). Dalam ayat ini juga digunakan bentuk kalimat perintah. Allah juga berfirman yang (artinya) : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isra: 23). Di sini juga digunakan bentuk kalimat perintah.
Birrul walidain juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: “Amal apa yang paling dicintaiAllah ‘Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya”.Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”.Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian kita ketahui bahwa dalam Islam, birrul walidain bukan sekedar anjuran, namun perintah dari Allah dan Rasul-Nya, sehingga wajib hukumnya. Sebagaimana kaidah ushul fiqh, bahwa hukum asal dari perintah adalah wajib.

Begitu kata agama dalam hal berbakti kepada kedua orangtua, sementara itu kedudukan seorang ibu itu sangat istmewa, hal itu sudah ada dalam Al-Qur’an.
Saat seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad, kepada siapa dia harus berbakti, Nabi Muhammad menjawab kepada ibunya. Pertanyaan yang sama diajukan 3x, jawaban tetap sama, yaitu: ibu. Baru pada pertanyaan ke 4 Nabi menjawab: kepada ayah.

Itu menandakan posisi seorang ibu (wanita) di atas seorang ayah (lelaki) di dalam Islam:
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu. (Shahih Muslim No.4621)

  Ada lagi hadits yang menyebut Surga di bawah telapak kaki ibu. Meski ada yang bilang itu hadits dhoif, namun pada dasarnya Islam sangat memuliakan ibu. Sehingga durhaka kepadanya adalah satu dosa besar.
Kenapa kita harus memuliakan ibu? Jawabnya ada di Al Qur’an:

  “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14) 
Begitu pula dalam firman-Nya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf: 15) 

  Jika aku harus menceritakan ibuku, semua kertas hvs yang ada di rumahku tak dapat melukiskan semua keindahannya. Tentang kasih sayang yang begitu besar, pejuangan hidupnya dan tentang rindu ini yang terasa semakin menyesak.

Ahh ibu, seandainya ibu disini. Menemaniku untuk registrasi dan mengurus semua kegiatan awal kuliahku. Aku pasti akan sangat senang, ibu rasa rindu ini sangat besar. Aku ingin bertemu dengamu bu.
Aku terlalu banyak mengeluh dalam hidupku, sementara ibuku. Tak pernah aku melihat dia mengeluh di hadapanku, secapek apapun dia, selalu bisa menetramkan hatiku.

Aku sudah sering menjadikan ibu sebagai sumber inspirasiku dalam menulis, sudah kubuatkan draf penulisan khusus untuk mendeskripsikan kehebatannya. Aku sangat mencintainya, dan aku sangat merindukannya untuk saat ini.

Aku akan terus berjuang nanti di bangku kuliah, supaya aku bisa membanggakannya nanti. Semoga !
Lamunan tentang rindu ibu, kian terasa. Semua ketika aku berjumpa dengan seorang ibu yang perhatian padaku di PKM UJ. Ibu… ibu .. dan ibu…

***
IBU 


Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir - bibir manusia. Dan "Ibuku" merupakan sebutan terindah. Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dilaka lara, impian kta dalam rengsa, rujukan kita di kala nista. Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya. Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.


Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian. Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud. Penuh cinta dan kedamaian.

            Puisi yang di tulis Khalil Gibran ini memang sangat benar, ibu adalah segalanya dan aku bangga mempunyai ibu sehebar ibuku. Ibu … ku tunggu nanti ketika ibu bisa menemuiku kembali, membunuh semua kerinduan ini dan aku bangga mempunyai ibu yang sangat hebat. Semoga kasihmu itu akan terus kurasa, dan aku bisa membanggakanmu dengan segenap prestasi.
Aku selalu merindukanmu.


Sumber referensi :

Adnan.  2012. Kisah Kasih ibu. http://adnan-kisahkasihibu.blogspot.com/2012/07/kemuliaan-dan-kedudukan-ibu-dalam-islam.html diakses tanggal 22 Juni 2013.

Anonim. 2012. Kedudukan Wanita di Dalam Islam. http://syiarislam.wordpress.com/2012/04/12/kedudukan-wanita-di-dalam-islam/ di akses tanggal 22 Juni 2013.

Anonim. 2012. Buletin At-tauhid.  http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/berbakti-kepada-orang-tua di akses tanggal 22 Juni 2013. 


Jangan lupa tinggalkan komentar, follow blog, follow twitter @gustitrisno  dan G+ (+Gusti Trisno), ya? Apabila informasi ini bermanfaat bagi kamu.  Bisa juga follow  FP Blog Gusti Trisno biar dapat update info setiap hari. J
PKM Sore Itu PKM Sore Itu Reviewed by gusti trisno on 12:17:00 Rating: 5
Powered by Blogger.