UNSUR DIMENSI RELIGIUSITAS DALAM NOVEL “KUBAH” KARYA AHMAD TOHARI



UNSUR DIMENSI RELIGIUSITAS DALAM NOVEL “KUBAH” KARYA AHMAD TOHARI
Sutrisno Gustiraja Alfarizi/130210402039/Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Sinopsis

Dua belas tahun selama di Pulau Buru, Karman akhirnya bebas. Tetapi dibalik itu semua, ia bingung tiada tara. Pasalnya semua dunianya telah berubah, istrinya telah memiliki suami baru. Sawahnya telah terjual. Dan ia takut untuk kembali ke Desa Pegaten, takut akan masyarakat tidak menerima keberadaannya.
            Tanpa tujuan yang jelas, Karman kemudian melangkakan kaki berjalan ke arah selatan. Di pojok alun-alun sebelah sana ia kembali behenti, gamang. Namun akhirnya ia bergerak lagi membelok ke barat. Dan sekali lagi, kebimbangan mengepungnya. Maka ia hanya mengikuti pembawaan kaki dan berbelok lalu melangkah ke utara. Hingga ia memutuskan utnuk makan, lalu mengelilingi alun-alun kota, dan ia menyempatkan untuk sholat. Sholat. Sebuah hal yang membuat  airmatanya meleleh. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk ke rumah Gono-Saudaranya.
            Di rumah Gono, ia bertemu dengan Rudio-anak pertamanya, Rudio pun memberi tahu jika anak ketiga Karman-Tono telah meninggal, pertemuan haru pun terjadi. Pun ketika Bu Gono melihat saudaranya. Hingga Bu Gono memeluk erat Karman. Kabar kedatangan Karman menyeruak ke Pegaten. Tini, anak Karman yang tinggal bersama ibunya pun tahu akan hal tersebut. Ia memutuskan untuk melihat ayahnya bersama Jabir. Ia takjub dengan pewarakan ayahnya yang gagah.
            Karman lahir di pegaten pada tahun 1935. Ayahnya adalah seorang mantri pasar. Waktu itu gaji seorang mantri pasar bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Namun, masa sulit pun menyerang mantri pasar tersebut. Ketika masa pendudukan Jepang datang, orang-orang Pegaten mengalami masa yang sangat sulit. Kurang pangan terjadi dimana-mana. Karena Ayah Karman memiliki sifat kepriyayiannya, ia tak sudi makan ubi rebus. Maka ia pun memutuskan untuk melakukan transaksi barter dengan Haji Bakir. Satu ton beras ditukar  satu setengah hektar sawah. Ayahnya Karman pun wafat karena sifat kepriyayiannya, pasalnya ia tidak mengikuti barisan Republik malah mendukung pihak penjajah. Oleh karena itu, para pejuang membawanya ke hutan. Sepeninggal ayahnya, Karman hidup dengan ibu dan seorang adik perempuan yang masih kecil. Setelah datang masa aman, Karman dan ibunya pulang ke Pegaten. Walaupun tidak memiliki apa-apa, Karman bersyukur karena masih bisa mengumpulkan singkong dari ladang orang dan dibawa pulang sebagai bahan makanan. Padahal usianya masih bocah, pun ia bekerja pada haji Bakir dan ia juga di sekolahkan di sebuah Sekolah Rakyat.
            Ketika Hasyim-Paman Karman kembali ke kampung halaman, ia melihat kecerdasan yang dimiliki Karman. Akhirnya mantan anggota Laskar Hisbullah ini memutuskan untuk menyekolakan Karman ke tingkat SMP. Haji Bakir yang memperkejakan Karman di kediamannya pun setuju akan keputusan Hasyim. Karman merupakan pemuda satu-satunya di kampungnya yang bisa menamatkan SMP. Sayang, ketika ia telah lulus. Ia bingung dengan pencarian kerja. Beruntung Haji Bakir masih menerimanya. Dalam kondisi ini, Margo yang sangat aktif menambah jumlah anggota partainya mengincar Karman untuk dijadikan kader pilihan. Ia pun membicarakan hal tersebut kepada Triman. Dengan taktik yang disusun rapi, perlahan mereka mendapatkan mangsanya. Karman bekerja di kantor kecamatan karena bantuan mereka. Dalam kondisi seperti itulah, Triman dan Margo sering memberi buku-buku berupa doktrin-doktrin komunis dan pikiran-pikiran Lenin.
            Karman tidak sadar akan hal tersebut. Masalah dalam hidupnya pun bertambah ketika ia mengetahui, Ifah-anak Haji Bakir dilamar oleh orang lain. Maka ia memutuskan untuk menemui Haji Bakir dan hendak melamar juga. Sayang, Haji Bakir membuat bara dalam hatinya. Dan ketika suami Ifah meninggal, Karman pun berusaha melamarnya. Tapi kembali ditolak oleh Haji Bakir dengan alasan perubahan sikap Karman yang tak seperti dulu, kini Karman sering terlihat bersama Suti, perempuan yang sering memuaskan nafsu orang partai dan ia pun telah tak sholat.
            Di tengah masalah yang membalut hidupnya, Karman mengenal Marni yang kemudian menjadi istrinya. Meskipun Karman terang-terangan mengakui dirinya Komunis, tapi ia tak pernah melarang peribadatan yang dilakukan istrinya.
            Pegaten kembali memasuki masa-masa sulit, kepahitan hidup melanda masyarakatnya tepatnya pada awal tahun enam puluhan. Ironisnya, mereka lebih sering meninggalkan perkerjaan guna menghadiri rapat-rapat umum. Pada suatu rapat yang penuh hiruk-pikuk, Margo menganjurkan semua orang makan tikus. Memang, saat itu jumlah tikus di sawah-sawah Pegaten puluhan kali lebih banyak daripada jumlah penduduk desa itu. sesungguhnya margo tidak bermaksud mengotori gizi masyarakat, tapi ia ingin mengancurkan nilai mapan yang ada di tengah masyarakat Pegaten tersebut.
            Sesuatu yang dasyhat terjadi di Pegaten pada dini hari menjelang 1 Oktober 1965. Marni baru tiga bulan melahirkan Tono, anaknya yang ketiga. Ia tidak mau tahu bahwa kabar yang besar dan membingungkan telah tersebar ke mana-mana, tak terkecuali di Pegaten. Ia hanya ingin pagi-pagi menyediakan sarapan, lalu melepas suaminya di pintu. Setelah menyiapkan makan siang enam jam kemudian, ia akan duduk membopong Tono sambil menunggu Karman pulang. Biasanya Karman lebih dulu menyentil si Buyung sebelum menaruh sepeda di tempat. Atau Karman akan mencubit tengkuk ibu si Buyung.
            Tetapi keinginan Marni tinggal menjadi harapan khayali. Sejak tersiar kabar yang dahsyat itu Karman berubah menjadi pendiam. Bahkan senyum Marni pun tak pernah dibalas Karman, begitupun ia tidak pernah tertarik lagi untuk membopong Tono.
            Marni berpikir. Memang sudah banyak orang yang ditangkap. Bahkan ia mendengar ada pula yang dibunuh. Margo dan tiga orang lainnya dikubur di dekat jembatan kali Benfs. “Lalu mengapa suamiku begitu ketakutan?” pikir Marni.
            Marni teringat beberapa bulan sebelum terjadi peruabahan pada Karman, suaminya itu pernah membuat poster-poster. Merah, dan ada gambar palu arit. Setahu Marni suaminya menjadi anggota Partindo. Marni pun menanyakan hal tersebut pada Karman.
            “Itulah. Semua kekuatan revolusioner mesti bersatu. Meskipun aku jelas anggota Partindo, tetapi aku juga seorang revolusioner. Jadi aku wajib membantu orang-orang yang secita-cita. Yang sedang kukerjakan itu tidak lain kecuali poster-poster revolusioner.”
            Marni percaya dengan penjelasan Karman. Ia berpikir jika Karman tidak tersangkut paut dengan penyebab huru-hara. Sementara penangkapan terhadap orang-orang komunis yang telah mendalangi makar berdarah berlanjut. Kegelisahan menimpa Karman, ia pun berpamitan kepada Marni untuk pergi ke rumah Triman. Sebelum pegi, ia menitipkan ketiga anaknya kepada istrinya. Rumah Triman satu kilometer jauhnya. Di tengah perjalanan menuju rumah Triman, ia terbelalak. Dari jauh, ia melihat empat–lima lampu senter menyala berganti-ganti. Laki-laki yang berjalan paling depan membawa lampu pompa.
            Cepat Karman menuntun sepedanya ke sebuah perkarangan kosong, lalu mencari tempat yang baik untuk bersembunyi sambil mengintip rombangan kecil itu lewat. Bunyi langkah sepatu lars. Telinga Karman berdenging. Sesudah dekat benar, Karman melihat jelas siapa yang berjalan di belakang lampu pompa itu. kepalanya tertuunduk. Tangannya terikat ke belakang. Bajunya bergaris-garing, jalannya bungkuk. Triman!
            Seketika ia memikirkan istrinya, ia takut jika istrinya dianinyaya oleh  polisi dan tentara yang memburu dirinya. Ia berharap Marni memberi tahu keberadaannya. Karman lebih suka  tertembak dibanding melihat Marni disiksa. Dengan langkah gontai, ia pun berusaha sembunyi. Tempat pertama yang menjadi Lubuk Waru. Di tempat tersebut, Karman bertemu Kastaghetek. Seorang tukang bambu yang sederhana dan memiliki kegemaran menangkap ikan. Kastagethek pun memberi Karman lima ekor ikan. Ia meminta Kastaghetek untuk merahasiakan pertemuannya dengan alasan tak pantas seorang priyayi ke tempat hening tersebut. Setelah Lubuk Waru, Karman menemukan tempat persembunyian selanjutnya. Astana Lopanjang. Sayang, di tempat tersebut ia ditemukan warga dalam keadaan tubuh yang mengenaskan, pasalnya keadaan Karman sedang sakit parah. Boleh jadi karena keadaannya itulah orang tidak tega menghabisi nyawanya.
            Sejak dulu desa itu bernama Pegaten, juga pada bulan Agustus 1977 dan entah sampai kapan lagi. Tadi malam ada hujan walaupun sebentar. Tini bersama Jabir keluar dari rumah Bu Mantri. Mereka baru menjemput Karman dari Kota. Ayah Tini yang baru pulang dari pulau Buru itu sekarang berada di rumah Bu Mantri, nenek Tini.
            “Pantas ada gadis manis di Pegatan ini,” kata Jabir memulai urakannya. “Ternyata ayahmu gagah juga.”
            Sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya, Tini menceritakan keadaan ibunya yang sedang dilema menghadapi kabar kedatangan Ayahnya. Jabir pun menyuruh Tini untuk tidak terlalu ikut campur, apalagi meminta ibunya rujuk kembali dengan ayahnya. Sebaliknya menurut Tini, mereka berdua harus belajar dari pengalaman kedua orangtuanya.
            Rumah Bu Mantri kedatangan banyak tamu, mereka semua berniat menjenguk Karman. Pun Haji Bakir menjenguk Karman. Ternyata masyarakat Pegaten memiliki sifat yang masih sama seperti dulu: mudah memaafkan  kesalahan orang. Di kesempatan yang berbeda, Haji Bakir kembali silaturahmi menuju rumah Bu Mantri. Ia berniat melamar Tini untuk Jabir. Kesepakatan pun terjadi. Karman dan keluarganya menerima lamaran tersebut.
            Karman kembali menemukan seberkas sinar kasih satang. Dia dipercayai oleh Pak Haji Bakir, orang terkemuka di desanya yang pernah dikhianatinya karena dia sendiri berpaling dari Tuhan, untuk membangun kubah masjid. Dalam kebisuannya, mahkota masjid itu terus mengumandangkan janji akan memberikan hak asasi pada setiap manusia yang sadar akan kemanusiannya. Dan Karman merasa tidak terkecuali.





Hasil Analisis dan Pembahasan
Unsur-Unsur Instrinsik
Adapun unsur-unsur instrinsik yang dianalisis dalam makalah ini:
1.      Tema
Dalam novel “Kubah” karya Ahmad Tohari banyak sekali ditemukan tema. Dari banyaknya tema tersebut dapat dibagi menjadi dua yakni tema utama dan tema tambahan.
Adapun tema dalam novel “Kubah” sebagai berikut:
1.      Kehidupan masyarakat Pegaten pasca kemerdekaan
Hal ini dapat dijelaskan dalam kutipan berikut:
Pada masa pendudukan Jepang, orang-orang Pegaten mengalami masa yang sangat sulit. (Kubah: 59)

Pada kutipan tersebut menjelaskan tentang kesulitan masyarakat Pegaten dalam memenuhi kehidupannya, bahkan mereka pun kurang pangan akibat dijarah oleh tentara Jepang.
Yang terjadi di pagaten pada awal tahun enam puluhan, sama seperti yang terjadi di mana-mana. (Kubah: 146)

Pada kutipan tersebut menjelaskan tentang kehidupan masyarakat Pegaten yang sangat memilukan bahkan mereka pun mengalami kemarau panjang. Hama tikus dan sangit menggagalkan panen mereka.
2.      Cinta
“Sungguh tidak adil!” begitu keluh Karman setiap kali teringat lamarannya yang tidak di terima oleh Haji Bakir. (Kubah: 99)

Pada halaman tersebut, Karman merasakan rasa sakit akibat lamarannya ditolak. Padahal sewaktu kecil ia telah menyelematkan Rifah anak Pak Haji Bakir. Selain itu sewaktu masih kecil, Karman juga membantu mengurus usaha Pak haji Bakir. Tapi kenyataan yang ia terima malah seperti itu. Cintanya tak berbalas, hingga Rifah pun menikah dengan lelaki lain.
“Ah, kau selalu menyebut nama Jabir bila hendak berkata sesuatu padaku.”
Tini merenggut. Pipihnya merah. Ia hendak bangkit meajut, tapi ibunya cepat menahan. (Kubah: 45)
Pada kutipan tersebut menjelaskan Tini yang digoda ibunya karena sering membahas tentang Jabir ketika berbicara dengannya dengan mengatakan “Kak Jabir berkata.’
3.      Kehidupan  Politik Pasca Kemerdekaan
Sesudah pengakuan kedaulatan pada tahun 1949, banyak anggota Laskar Hisbullah meletakkan senjata. Mereka kembali ke kampung halaman setelah empat tahun ikut mempertahankan kemerdekaan Republik yang masih muda. (Kubah: 80)

Pada kutipan tersebut menjelaskan tentang keadaan pasca kemerdekaan, di mana anggota Laskar Hisbullah yang turut membantu mempertahankan kemerdekaan Republik. Salah satu anggota Laskar hisbullah tak lain adalah Hasyim-paman Karman.
Seorang terpelajar yang sangat terpengaruh oleh pikiran-pikiran Muso lolos dari Madiun dan menjadi seorang guru di Pegaten. Kawan Margo, demikian ia dipanggil oleh teman-teman separtai, adalah seorang kader pilihan. (Kubah: 84)

Pada kutipan tersebut, seperti kita ketahui banyak sekali antek-antek komunis atau yang dikenal PKI dibasmi di daerah Madiun. Dan Margo termasuk ke dalam golongan mereka. Nasib baik datang padanya, hingga ia lolos dari kejaran maut dan sampai di Pegaten.
4.      Kehidupan priyayi
Ayahnya seorang mantri pasar di sebuah kota kecamatan. Waktu itu gaji seorang mantri pasar bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Hampir semua warga desa Pegaten adalah petani. Maka ayah Karman sangat bangga akan jabatannya sebagai pegawai gubermen. (Kubah: 58)

Dalam kutipan tersebut menjelaskan tentang pekerjaan ayahnya Karman yang biasa dipanggil Pak Mantri oleh orang-orang desa. Pekerjaan sebagai seorang mantri pasar merupakan pekerjaan yang terhormat.
Kepriyayian seorang Pak Mantri pun dipertegas pada kutipan berikut.
Priyayi itu sangat tersiksa, bukan hanya karena harus makan ubi. Menurut keyakinannya, seorang mantri hanya pantas makan nasi dari beras kualitas terbaik. (Kubah: 59)

5.      Pentingnya Pendidikan
“Jadi kau tinggal bersama bibimu di sini?”
“Ya, Ayah.”
“Sekolahmu?”
“Di STM kelas tiga. Empat bulan lagi ujian.” (Kubah: 35)

Dalam kutipan tersebut menjelaskan keadaan Rudio yang tinggal bersama bibinya demi keinginan melanjutkan sekolah.
Dalam kutipan lain, pentingnya pendidikan pun tergambar:
Karman merasa menjadi anak yang paling berbahagia di dunia. Pada permulaan tahun ajaran baru tahun 1950, Karman sudah menjadi seorang murid SMP di sebuah kota kabupaten yang terkdekat. Karman menjadi anak Pegaten pertama yang menempuh pendidikan sampai ke tingkat menengah. (Kubah: 81)

Dalam kutipan di atas dijelaskan tentang kebahagiaan yang ada dalam diri Karman. Ia berhasil menjadi anak Pegaten satu-satunya yang menempuh pendidikan sampai ke tingkat menegah. Hal tersebut, karena Karman didukung penuh oleh Hasyim-Pamannya yang rela membiyayai sekolah Karman.
Dari kelima tema yang telah disebutkan. Tema kehidupan politik pasca kemerdekaan merupakan tema utama. Hal ini dikarenakan dari tema tersebutlah menjabarkan tema-tema yang lain. Serta masalah demi masalah pun terjadi.
2.      Tokoh dan Penokohan

a.       Karman
Karman adalah tokoh utama dalam novel ini, memiliki sifat atau karakter yang beragam. Hal ini dijelaskan oleh beberapa kutipan berikut:
1.      Kurang Percaya Diri dan Rendah Diri
“Dia tampak amat canggung dan gamang. Gerak-geriknya serbakikuk sehingga mengundang rasa kasihan.” (Kubah: 5)
“Dari depan gedung Kodim, Karman berjalan ke barat mengikuti iring-iringan orang banyak. Karman meski ukuran tubuhnya tidak kecil, saat itu merasa dirinya tak berarti, bahkan tiada.” (Kubah: 9)

Dari dua kutipan tersebut rasa kurang percaya diri dan rendah diri Karman tergambar kuat. Ia canggung dan gamang, gerak-geriknya menggundang rasa kasihan. Dan ia merasa dirinya tak berarti, bahkan tiada. Itulah pengambaran sosok Karman yang baru sehari lepas menjadi tahanan politik.
2.      Pintar dan Teliti
Hal ini tergambar pada kutipan berikut:
 “Banyak cara bisa dilakukan agar Karman bisa bermain dengan gadis kecil itu. Untuk Rifah, Karman harus punya sesuatu yang menarik hatinya. Misalnya mainan baling-baling yang terbuat dari daun kelapa.” (Kubah : 62)
“Tanpa terasa akhirnya Karman seakan menjadi anggota keluarga Haji Bakir. Ia sering terlihat mengiringkan gerobak yang mengangkat gerobak yang baru dipanendari kebun Haji Bakir. Petani kaya itu merasa puas, karena kalau menyangkut panen kelapa, Karman selalu teliti. Sering anak yang pintar itu melapor, “Panen kelapa hari ini berjumlah 836 buah. Sejumlah 43 buah rusak dimakan tupai. Dalam perjalanan, anak-anak nakal naik ke atas gerobak dan membawa lari 3 buah. Jadi sampai ke gudang tinggal 790 buah.” (Kubah : 64-65)

Watak pintar dan teliti Karman terlihat jelas dari dua kutipan diatas. Ia selalu memiliki cara untuk menarik Rifah untuk bermain bersamanya. Di satu sisi, ia sangat teliti menghitung jumlah kelapa yang dipanennya.
3.      Suka Menolong dan berjiwa pahlawan
Hal ini tergambar pada kutipan berikut:
“Kambing Pohing tidak bertahan lama. Kibas berbulu putih itu lari. Kambing Haji Bakir penasaran, lalu mengamuk. Matanya jalang. Tiba-tiba ia mengambil ancang-ancang hendak menyerang seirang gadis kecil yang berbaju putih. Mungkin binatang itu mengira Rifah adalah lawannya yang telah lari. Karman maju melindungi Rifah yang menjerit dengan muka biru. Kedua tanduk binatang itu ditangkapnya. Karena tenaganya kalah kuat Karman terayun-ayun oleh empasan binatang yang marah itu. Tapi Karman bertahan sampai beberapa orang dewasa bertindak. Rifah masih menggigil ketakutan ketika diangkat oleh Haji Bakir.” (Kubah : 66-67)
“Karena melihat Kinah masih berdiri menuai padi, Karman bertindak. Padi dan ani-aninya diletakkan di atas pematang. Kemudian secepatnya ia berlari. Ketika sampai di tujuan, hal pertama yang dilakukannya adalah menyapu tubuh bayi Kinah dengan kain. Karman tahu bayi itu masih kelenger. Kulitnya yang sudah membiru tampak bentol-bentol. Karman panik. Tetapi Karman ingat di sekolah ia pernah melihat gurunya melakukan gerakan nafas buatan. Karman mencoba menirukan gurunya, dan berhasil. Bayi Kinah bisa mengembalikan napas lalu kembali menjerit.” (Kubah : 77)

Pada kutipan pertama menjelaskan keberanian Karman melindungi Rifah dari amukan kambing. Sementara dalam kutipan kedua, Karman menolong Bayi Kinah yang tampak bentol-bentol akibat dikerumuni semut bahkan hingga kelenger. Sementara Kinah sendiri, waktu itu malah asik menuai padi. Akhirnya setelah Karman melakukan gerakan napas buatan, Bayi Kinah pun bisa mengembalikan napasnya.
4.      Pendendam
Hal ini tergambar ketika Karman menampakkan kebenciannya pada Haji Bakir seperti tergambar dalam kutipan berikut:
”Karman memulai dengan enggan bertemu, bahkan enggan menginjak halaman rumah orang tua Rifah. Sembahyang wajib ia tunaikan di rumah. Dan ia memilih tempat yang lain bila menunaikan sembahyang Jumat. Apa yang diperbuat Karman adalah balas dendam. Ia merasa disakiti, dinista. Dengan meninggalkan masjid Haji Bakir, ia pun bermaksud membalas dendam. Bahkan ketika ia mulai sekali-dua meninggalkan sembahyang wajib, ia juga merasa sedang membayar kesumat. Haji Bakir mempunyai masjid, dan bagi Karman, orang tua itu adalah tokoh agama. Dan wujud nyata agama di desa Pegaten adalah Haji Bakir itulah! Maka makin sering meninggalkan peribadatan, Karman merasa semakin puas.” (Kubah : 101)

5.      Memiliki sifat ikhlas atau tanpa pamrih.
Hal ini tergambar pada kutipan berikut:
“Tetapi Karman menganggap pekerjaan membuat kubah itu sebagai kesempatan yang istimewa. Se-sen pun ia tak mengharapkan upah.” (Kubah: 209)

Pada kutipan di atas tergambar sifat tanpa pamrih Karman, ia melakukan perkerjaan membuat kubah itu dengan ikhlas.
b.      Haji Bakir
Haji Bakir memiliki watak yang baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan:
“Ternyata keluarga Haji Bakir tidak pernah memperlakukan Karman sebagai pembantu rumah tangga yang sebenarnya. Anak itu diberi kesempatan menamatkan pendidikannya di sekolah rakyat yang sudah dua tahun ditinggalkannya. Pekerjaan yang diberikan kepada Karman adalah pekerjaan sederhana yang bisa diselesaikan oleh anak seusianya; mengantarkan makanan bagi orang yang sedang bekerja di sawah, menyapu rumah dan halaman, memelihara ikan di kolam, dan melayani si manja Rifah.” (Kubah : 65)

Dalam kutipan tersebut tergambar watak Haji Bakir yang baik terhadap Karman. Hal ini dikarenakan Karman hanya mendapat pekerjaan sederhana yang bisa diselesaikan oleh anak seusianya, bahkan Karman pun diberi kesempatan untuk menamatkan perndidikan di sekolah rakyat yang sudah dua tahun ditinggalkannya.
c.       Marni
Marni adalah istri Karman. Dalam novel Kubah “Marni” digambarkan sebagai sosok wanita yang tabah dan penyayang. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:
“Marni tidak menghiraukan bujukan sanak-saudara yang menghendaki dia menikah lagi. Akibatnya, mereka mulai mengambil jarak. Bantuan berupa kebutuhan hidup sehari-hari mulai jarang diterima oleh perempuan beranak tiga itu. Namun dengan tabah Marni menghadapi semua kesulitan hidupnya. Dicobanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri bersama ketiga anaknya yang masih kecil. Marni pernah bersekolah di Sekolah Kepandaian Putri, SKP, meskipun tak tamat. Maka ia bisa menjahit pakaian. Tetapi Marni memang kurang beruntung. Upayanya untuk hidup mandiri, gagal. Marni anak-beranak makin menderita.” (Kubah : 12)
“Ditatapnya wajah Tini dengan matanya, dengan hatinya, dengan seluruh perasaannya. Dari sosoknya, Marni melihat Tini adalah titisan Karman. Bentuk hidung dan alis Tini itu. Juga rona kulitnya. Dan dari segi keberadaannya; Marni tidak hanya melihat Tini sebagai titisan ayahnya. Gadis yang sedang lelap dalam kedamaian itu adalah buah dan makna kebersamaan yang total antara dirinya dengan Karman. Mendadak mata Marni terasa menyesak. Air matanya berjatuhan. Dalam isaknya, Marni mengeluh. “Oh, Tini anakku. Kamu tidak tahu siapa sebenarnya orang yang paling merindukan ayahmu.”” (Kubah : 53)

Pada kutipan pertama menjelaskan ketabahan Marni untuk terus menjaga rumahtangganya, ia sama sekali tak mendengarkan omongan keluarganya untuk menikah lagi. Meskipun keluarganya tak memberi bantuan lagi terhadapnya. Sementara kutipan kedua menjelaskan tentang sifat penyayang terhadap anak-anaknya.
d.      Tini

Tini adalah anak Karman. Dalam novel Kubah “Tini” digambarkan sebagai sosok perempuan yang rendah diri. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:
 “Rasa rendah diri itu tumbuh ketika Tini tahu bahwa Parta bukan ayah kandungnya. Pada saat yang sama pula ia tahu di mana dan bagaimana ayahnya yang sejati.” (Kubah: 40)

Sifat rendah diri yang ada dalam diri Tini ini diakibatkan adanya gambaran-gambaran buruk tentang tahanan politik dari orang-orang yang berada di sekelilingnya.
e.       Triman, Margo dan Gigi Baja
            Dalam novel ini tokoh antogis digambarkan pada sosok tiga orang komunis ini. Hal ini tergambar pada kutipan berikut:

”Margo merasa puas. Ia bersandar ke belakang, lalu menyalakan rokok. Atasannya membuka lembaran-lembaran kertas berisi data tentang Karman. Tiba-tiba Margo berkata, “Bila pekerjaan kita pada taraf pertama telah berhasil, apa yang selanjutnya bisa saya lakukan?”
Laki-laki bergigi baja putih itu tersenyum kembali. Tanpa mengalihkan perhatiannya dati kertas-kertas yang sedang dibaca ia menjawab. Nadanya pasti.
“Jauhkan Karman dari Haji Bakir, dari masjidnya. Harus ditemukan cara untuk memisahkan Karman dan tuan tanah dan masjidnya itu.” (Kubah: 88)

Pada kutipan tersebut dijelaskan tentang siasat licik dua komunis tersebut yakni Lelaki Gigi Baja dan Margo untuk mendapatkan kader yang sedang diincarnya: Karman. Selanjutnya, penggambaran sosok Triman dijelaskan pada kutipan berikut:
“Margo pulang ke Pegaten. Bersama Triman ia memantangkan siasat lebih jauh.” (Kubah: 88-89)



f.       Tokoh lataran
Tokoh yang terakhir adalah tokoh lataran. Tokoh ini hanya berfungsi sebagai latar cerita saja. Di novel “Kubah” terdapat beberapa tokoh lataran, yaitu Komandan, Ajudan, Parta, Birin, Asep, Kapten Somad, Mayor Darius, Rudio, Gono, Jabir, Paman Hasyim, Bu Mantri, prajurit berbaret merah, Pak Mantri, Bu Haji Bakir, Rifah, Pohing, Kinah, Abdul Rahman, Suto dan Kastagethek.
3.      Latar
Latar dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
a.       Latar Tempat
Latar tempat merupakan latar yang menggambarkan tempat atau lokasi sebuah peristiwa itu terjadi.
Tempat yang menjadi latar dalam novel ini sebagai berikut:
1.      Desa Pegaten
Dalam novel “Kubah” karya Ahmad Tohari. Desa Pegaten merupakan tempat yang sering dibicarakan atau dijelaskan, dari semua tokoh yang ada. Seperti dijelaskan pada kutipan berikut:
“Sesudah pengakuan kedaulatan pada tahun 1949, banyak anggota Laskar Hisbullah meletakkan senjata. Mereka kembali ke kampung halaman setelah empat tahun ikut mempertahankan kemerdekaan Republik yang masih muda. Salah seorang di antaranya mereka pulang ke Pegaten. Dia adalah Hasyim, adik Bu Mantri.” (Kubah: 80)

Pada kutipan di atas menjelaskan tentang situasi pasca kemerdekaan tahun 1949 banyak laskar Hisbullah yang pulang ke kampung halamannya. Hal itu juga dilakukan oleh Hasyim, adik Bu Mantri atau Paman Karman.
2.      Pulau Buru
Dalam novel “Kubah” karya Ahmad Tohari. Pulau Buru merupakan tempat tinggal Karman selama 12 tahun menjadi tahanan politik. Hal ini dapat dijelaskan pada kutipan berikut.
“Waktu menerima surat Marni itu di Pulau Buru, mula-mula Karman merasa sangat gembira. Surat dari istri yang terpisah ribuan kilometer adalah sesuatu yang tak ternilai harganya bagi seorang suami yang sedang jauh terbuang.” (Kubah: 13)
Pada kutipan di atas menjelaskan tentang situasi Karman yang tengah menerima surat dari istrinya, Marni.
b.       Latar Waktu
Latar waktu merupakan latar yang menggambarkan kapan sebuah peristiwa itu terjadi. Adapun latar waktu yang digunakan dalam novel “Kubah” Karya Ahmad Tohari adalah sebagai berikut:
1.      Oktober 1965
“Geger Oktober 1965 sudah dilupakan orang juga di Pegaten. Orang-orang yang mempunyai sangkut paut dengan peristiwa itu, baik yang pernah ditahan atau tidak, telah menjadi warga masyarakat yang taat...” (Kubah : 38)
2.      Permulaan tahun ajaran baru, tahun 1950.
“Karman menjadi anak yang paling berbahagia di dunia. Pada permulaan tahun ajaran baru tahun1950, Karman sudah menjadi murid SMP di sebuah kota kabupaten yang terdekat. Karman menjadi anak Pegaten pertama yang menempuh pendidikan sampai ke tingkat menengah.” (Kubah : 81)
3.      Awal tahun enam puluhan.
“Yang terjadi di Pegaten pada awal tahun enam puluhan, sama seperti yang terjadi dimana-mana. Boleh jadi orang-orang tidak senang mengingat masa itu kembali karena kepahitan hidup yang terjadi waktu itu.” (Kubah : 146)
4.      Bulan Agustus tahun 1977.
“Dari dulu, desa itu bernama Pegaten juga pada bulan Agustus 1977 dan entah sampai
kapan lagi. Tadi malam ada hujan walaupun sebentar. Cukuplah untuk melunturkan debu yang melapisi dedaunan. Tanah berwarna coklat kembali setelah beberapa bulan memutih karena tiada kandungan air.” (Kubah : 186)

c.         Latar Suasana
Latar suasana adalah salah satu unsur intrinsik yang berkaitan dengan keadaan psikologis yang timbul dengan sendirinya bersamaan dengan jalan cerita. Suatu cerita menjadi menarik karena berlangsung dalam suasana tertentu. Misalnya gembira, menegangkan, menyeramkan dan lain-lain.



Adapun latar suasana dalam novel “Kubah” sebagai berikut:
1.      Gembira dan Sedih
“Waktu menerima surat dari Marni itu, di Pulau Buru, mula-mula Karman merasa sangat gembira. Surat dari istri yang terpisah ribuan kilometer adalah sesuatu yang tidak ternilai harganya bagi seorang suami yang sedang jauh terbuang. Sebelum membaca surat itu, sudah terbayang oleh Karman lekuk sudut bibir Marni yang bagus; suaranya yang lebut, atau segala tingkah lakunya yang membuktikan Marni adalah perempuan yang bisa jadi penyejuk hati suami. Tetapi selesai membaca surat itu, Karman mendadak merasa sulit bernapas. Padang datar yang kerontang dan penuh kerikil seakan mendadak tergelak di hadapannya. Padang yang sangat mengerikan, asing, dan Karman merasa seorang diri. Keseimbangan batin Karman terguncang keras. Semangat hidupnya nyaris runtuh.” (Kubah : 13)
Pada kutipan di atas menjelaskan tentang rasa senang yang ada dalam diri Karman ketika menerima surat dari istrinya, Marni. Tapi kegembiraan berganti suasana sedih tatkala Karman membaca isi surat tersebut.
2.      Mendebarkan
“Kambing Pohing tidak bertahan lama. Kibas berbulu putih itu lari. Kambing Haji Bakir penasaran, lalu mengamuk. Matanya jalang. Tiba-tiba ia mengambil ancang-ancang hendak menyerang seorang gadis kecil yang berbaju putih. Mungkin binatang itu mengira Rifah adalah lawannya yang telah lari. Karman maju melindungi Rifah yang menjerit dengan muka biru. Kedua tanduk binatang itu ditangkapnya. Karena tenaganya kalah kuat Karman terayun-ayun oleh empasan binatang yang marah itu. Tapi Karman bertahan sampai beberapa orang dewasa bertindak. Rifah masih menggigil ketakutan ketika diangkat oleh Haji Bakir.” (Kubah : 66-67)
3.      Menegangkan
 “Rasa kecewa, marah, dan malu berbaur dihati Karman. Akibatnya, ia mendendam dan membenci Haji Bakir. Karman memulai dengan enggan bertemu, bahkan enggan menginjak halaman rumah orang tua Rifah. Sembahyang wajib ia tunaikan di rumah. Dan ia memilih tempat yang lain bila menunaikan sembahyang Jumat.” (Kubah : 101)
4.      Menyeramkan
 “Ah terserah sampean yang jelas kemarin malam saya melihatnya. Kemarin ada sesuatu yang tiba-tiba melompat dari air dan mendarat di rakit ini. Saya kira ikan gabus karena ikan itu memang biasa melompat-lompat seperti itu. Eh, Pak Karman ingin tahu ternyata apa,” “Apa?” “Potongan kaki manusia. Darah masih menetes pada bekas potongannya.” (Kubah : 173)
5.      Mengharukan
“Orang tak usah mencari kata-kata yang berlebihan, karena yang kemudian terjadi memang sulit dilukiskan dengan bahasa. Perempuan-perempuan yang menahan isak. Lelaki-lelaki yang tiba-tiba jadi gagu. Dan suasana mendadak bisu tetapi penuh haru-biru.” (Kubah : 196)

Unsur Dimensi Religiusitas
Lima Dimensi Keberagamaan
Salah satu kenyataan yang terjadi dalam sepanjang perjalanan sejarah umat manusia adalah fenomena keberagamaan (religiosity). Untuk menerangkan fonemena ini secara ilmiah, bermuncullah beberapa konsep religiusitas. Salah satu konsep yang akhir-akhir ini dianut banyak ahli Psikologi dan Sosiologi adalah konsep religiusitas rumusan C.Y Glock dan R. Stark.
            Menurut Glock dan Stark (Robertson, 1988) ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu dimensi keyakinan (ideologis), dimensi peribadatan atau praktek agama (ritualistik), dimensi penghayatan (ekspresiansial), dimensi pengalaman (konsekuensial), dimensi pengetahuan agama (intelektual).
            Dalam novel Kubah terdapat dimensi-dimensi tersebut.
a.       Dimensi Keyakinan
Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan di mana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut.
Hal tersebut seperti diungkap pada kutipan berikut:
“Dan begitu. Karman tidak pernah melarang istirnya beribadah, meskipun hal yang demikian bertentangan dengan ajaran partainya. Bukan Karman juga tidak ingin mengajak istrinya ingkar, bukan! Karman tidak berani melakukannya! Dari kepribadian Marni, ketenangannya, terpancar wibawa. Seorang revolusioner muda seperti Karman ternyata mandul ketika berhadapan dengan keanggunan istrinya.” (Kubah: 143)

Dalam kutipan tersebut dijelaskan kondisi Karman yang sebenarnya ingin mengajak istrinya ingkar. Tapi, ia tak memiliki kekuatan untuk itu. Padahal sebelumnya Karman adalah sosok yang digambarkan memiliki keyakinan teguh pada agamanya. Namun perubahan drastis dialaminya tatkala pinangannya untuk Rifah ditolak oleh Haji Bakir. Ia pun tidak melakukan rutinitas peribadatan seperti sebelumnya.
b.      Dimensi praktik agama
Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang yang menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik-praktik keagamaan ini terdiri atas dua kelas penting, yaitu:
-Ritual, mengacu kepada seperangkat ritus, tindakan keagamaan formal dan praktik-praktik suci, baptis, perkawinan dan semacamnya.
Dalam Novel Kubah, praktik agama kelas ritual ini digambarkan pada kutipan berikut:
“Sering, Bu. Pada malam Mauludan yang lalu aku duduk berdampingan dengan ...”) (Kubah: 47)

Pada kutipan diatas kata Mauludan menunjukkan ritual keagamaan yang ada dalam Islam. Selain itu masih ada ritual-ritual yang seperti menjadi budaya di Indonesia seperti Peringatan Isro’ Mi’raj dan peringatan hari besar Islam lainnya.
-Ketaatan. Ketaatan dan ritual bagaikan ikan dengan air. Meski ada perbedaan penting. Apabila aspek ritual dari komitmen sangat formal dan khas publik, semua agama yang dikenal juga mempunyai perangkat tindakan persembahaan dan kontemplasi personal yang relatif spontan, informal, dan khas pribadi. Ketaatan di lingkungan penganut Kristen diungkapkan melalui sembahyang pribadi, membaca Injil, dan barangkali menyayi himne bersama-sama.
Dalam novel Kubah, ketaatan digambarkan pada beberapa tokoh. Seperti misalnya Rifah.
“Tidak gampang menemukan kalimat yang pantas untuk melukiskan perasaan Karman ketika ia melihat pemandangan di dalam sana. Seorang perempuan muda sedang duduk berdoa di atas sajadah yang digelar di lantai. Rifah masih dalam pakaian sembayang.
Wajah itu dibatasi oleh kain putih yang melingkari wajahnya dengan ketat. Mata itu setengah terpejam. Bibir kecil itu meruncing di kedua ujungnya, bergerak-gerak menggetarkan doa. Wajah yang damai, alami, nyaris tanpa eksperis apa pun. Tetapi ada sepasang intan airmata yang membiaskan sinar lampu di depannya” (Kubah: 126)
           
Pada kutipan tersebut, tokoh Karman sedang melihat Rifah yang tengah menjalankan sholat malamnya. Dan Rifah pun juga memohon doa pada Allah usai melalukan sholat. Dalam Islam, sholat merupakan wujud ketaatan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Dan ibadah yang dilakukan Rifah itu pun sangat khusus karena Rifah melakukannya di sepertiga malam terakhir-Nya.
c.       Dimensi Pengalaman
Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta-fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencpai pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir (kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontrak dengan kekuatan supernatural). Seperti telah dikemukakan, dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagaamaan, perasaan-perasaan persepsi-persepsi dan sensansi-sensasi yang dialami seseorang atau didefnisikan oleh suatu kelompok keagamaan (atau suatu masyarakat) yang melihat komunikasi, walaupun kecil, dalam suatu esensi ketuhanan, yaitu dengan Tuhan, kenyataan terakhir, dengan otoritas trasendental.
Dalam novel “Kubah” karya Ahmad Tohari. Dimensi pengalaman ini dapat digambarkan pada tokoh Karman. Hal ini dapat tergambar pada kutipan berikut:
“Tetapi Karman mendadak berhenti gagap. Termangu. Dua-tiga orang yang hendak sembahyang melewatinya tanpa peduli. Namun akhirnya seorang lelaki tua sambil berjalan menepuk pundak Karman. “Mari, Pak, sudah hampir ikamah.”
Dan seperti ada sesuatu yang mendorongnya, Karman ikut melangkah memasuki halaman masjid.”(Kubah: 30)

Pada kutipan tersebut menjelaskan tentang Karman yang akan melakukan ritual sholat. Padahal ia telah lama meninggalkan salah satu rukun Islam tersebut. Sejarah kelamnya yang menjadi antek PKI membuatnya melupakan Tuhan-nya. Tapi ketika terbebas dari Pulau Buru ia pun melaksanakan sholat kembali.
d.      Dimensi Pengetahuan Agama
Dimensi ini mengacu kepada harapan-harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai asar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. Dimensi pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi.
“Dan kini mereka memerlukan waktu tiga bulan lagi untuk memberi Karman bacaan-bacaan yang berisi doktrin-doktrin partai komunis dan pikiran-pikiran Lenin.” (Kubah: 97)

Pada kutipan tersebut menjelaskan ketidaktahuan Karman akan doktrin-doktrin yang secara eksplisit diberikan oleh Kelompok Margo yang jelas-jelas komunis. Hal ini menggambarkan jika pengetahuan agama Karman tidak terlalu besar. Karena ia mudah goyah terhadap keyakinan yang dianutnya. Atau dalam Islam disebut Murtad (keluar dari Islam)
e.       Dimensi Pengamalan atau Konsekuensi
Konsekuensi berkomitmen agama berlainan dari keempat dimensi yang sudah dibicarakan di atas. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Istilah “Kerja” dalam pengertian teologis yang digunakan di sini. Walaupun agama banyak menggariskan bagaimana pemeluknya seharusnya berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari, tidak sepenuhnya jelas sebatas mana konsekuensi-konsekuensi agama merupakan bagian dari komitmen keagamaan atau semata-mata berasal dari agama.
Dalam novel Kubah, dimensi pengamalan atau konsekuensi ini digambarkan pada tokoh Karman. Seperti dijelaskan pada kutipan berikut:
“Pengecut atau bukan, kini bukan saat yang pantas untuk memikirkannya. Aku, Karman, adalah manusia seperti manusia-manusia lain di dunia. Selain punya keyakinan ideologis, aku juga unya rasa, punya ikatan keluarga, punya naluri dan akal budi. Ya, akal budi. Kini aku ingin mendengar suara akal budiku sendiri.
“Kini jelas, kamu seorang kader partai yang munafik.”
“Aku tidak peduli.”
“Tetapi sejarah terlanjur mencataat, kamu adalah pengikut Margo. Kenapa bisa begitu?”
“Pertama, karena sakit hati. Aku jengkel karena Haji Bakir tak rela anaknya kukawini. Kedua, aku jengkel karena sawah orangtuaku dikuasai oleh haji Bakir dengan cara yang tidak adil. Dengan masuk ke lingkaran Margo, aku bermaksud membalaskan sakit hatiku. Atau kalau bisa, aku mendapatkan kembali sawah itu. Ah, aku tidak mengerti bahwa akhirnya aku harus terbawa dakan situasi-situasi yang sangat menakutkan ini. aku tak mengerti. Atau kamu bisa menerkanya?” (Kubah: 160-161)

Pada kutipan diatas menggambarkan keadaan kalut Karman akibat ia masuk menjadi anggota Margo. Dan antek PKI. Percakapan antara suara hati dan dirinya itu adalah konsekuensi terhadap nilai-nilai agama Islam yang telah ia lupakan.
Perspektif Islam tentang Religiusitas
            Islam menyuruh umatnya untuk beragama (atau berislam) secara menyeluruh (QS 2:208). Setiap Muslim, baik dalam berpikir, bersikap maupun bertindak, diperintahkan untuk berislam. Dalam melakukan aktivitas ekonomi, sosial, politik atau aktivitas apa pun, si Muslim diperintahkan untuk melakukannya dalam rangka beribadah kepada Allah. Di mana pun dan dalam keadaan apa pun, setiap Muslim hendaknya berislam.
            Esensi Islam adalah tauhid atau pengesaan Tuhan, tindakan yang menegaskan Allah sebagai Yang Esa, Pencipta yang Mutlak dan Transenden, Penguasa segala yang Ada. Tidak ada satu pun perintah dalam Islam yang bisa dilepaskan dari Tauhid. Seluruh agama itu sendiri, kewajiban untuk menyembah Tuhan untuk mematuhi perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, akan hancur begitu tauhid dilanggar (Ismail R. Al-Faruqi, 1988). Dapat disimpulkan bahwa Tauhid adalah intisari Islam dan suatu tindakan tak dapat disebut sebagai bernilai Islam tanpa dilandasi oleh kepercayaan kepada Allah.
            Konsep religiusitas versi Glock & Stark adalah rumusan brilian. Konsep tersebut mencoba melihat keberagaman seseorang bukan hanya dari satu atau dua dimensi. Keberagamaan dalam Islam bukan hanya diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual saja, tapi juga dalam aktivitas-aktivitas lainnya. Sebagai suatu sistem yang menyeluruh pula. Karena itu, hanya konsep yang mampu memberi penjelasan tentang kemenyeluruhan yang mampu memahami keberagaman umat Islam.
            Walaupun tak sepenuhnya sama, dimensi keyakinan dapat disejajarkan dengan akidah, dimensi praktik agama disejajarkan dengan syariah dan dimensi pengamalan disejarkan dengan akhlak.
            Dimensi keyakinan atau akidah Islam menunjuk pada seberapa tingkat keyakinan Muslim terhadap kebenaran ajaran-ajaran yang bersifat fundamental dan dogmatik. Di dalam keberislaman, isi dimensi keimanan menyangkut keyakinan tentang Allah, para malaikat, Nabi  atau Rasul, kitab-kitab Allah, surga dan neraka, serta qadha dan qadar.
            Dalam novel Kubah, dimensi keyakinan tokoh Karman tingkatannya bisa dikatakan tidak terlalu tinggi. Sebab ia begitu tidak sadar jika keyakinan atau akidahnya telah dirusak oleh Margo. Seperti digambarkan pada kutipan berikut:
“Haji Bakir mempunyai masjid, dan bagi Karman, orangtua itu adalah tokoh agama. Dan wujud nyata agama di desa Pegaten adalah Haji Bakir itulah! Maka makin sering meninggalkan peribadatan, Karman merasa makin merasa puas.
   Pemberontakan jiwa anak muda itu segera diketahui oleh Triman dan Margo. Mereka tahu apa yang sedang dibutuhkan Karman dalam rangka pemberontakannya itu; sokongan dan tepuk tangan! Orang-orang partai itu dengan senang hati akan memberikannya. Mereka berbuat seolah-olah menolong si anak malang. Bukan hendak menentramkan jiwa Karman, melainkan sebaliknya. Melihat ada dua orang yang memberikan dukungan, Karman bersikap seperti anak kecil yang menangis karena berkelahi dengan teman sepermainan.”(Kubah: 101-102)

Lalu kemudian pada kutipan
“Hanya setahun sejak perkenalannya dengan kelompok Margo, perubahan besar terjadi pada diri Karman. Ia menjadi sinis. Segala sesuatu apalagi yang menyangkut Haji Bakir selalu ditanggapi dengan prasangka buruk. Karman pun mulai berani berterus terang meninggalkan masjid, meninggalkan peribadatan. Bahkan tentang agama, Karman sudah pandai menguntip kata-kata Margo, bahwa agama adalah candu untuk kaum tertindas. (Kubah: 103)

            Dimensi peribadatan (atau praktek agama) atau syariah menunjuk pada seberapa tingkat kepatuhan Muslim dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual sebagaimana disuruh dan dianjurkan oleh agamanya. Dalam keberislaman, dimensi peribadatan menyangkut pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur’an, doa, dzikir, ibadah kurban, iktikaf di masjid di bulan puasa dan sebagainya.

            Dalam novel Kubah karya Ahmad Tohari dimensi peribadatan sangat tergambar jelas. Seperti pada beberapa kutipan berikut:
“Haji Bakir membeli seekor kambing jantan besar. Idul Qurban hampir tiba. Kambing itu berwarna hitam bersurai dan berjanggut panjang. Sepasang tanduknya sebesar lengan Karman.” (Kubah: 66)

“Demikian sumur masjid itu selalu ramai oleh gurau anak-anak selagi fajar merekah di timur. Hiruk-pikuk baru berakhir apabila sembahyang subuh sudah di mulai. Dan ketika jamaah yang tua-tua masih berzikir, anak-anak sudah bubar berhamburan. Mereka kembali ke rumah masing-masing gurauan gembira.”(Kubah: 70)

Dimensi pengamalan atau akhlak menunjuk pada seberapa tingkatan Muslim berperilaku dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan dunianya, terutama dengan manusia lain. Dalam keberislaman, dimensi ini meliputi perilaku suka menolong, bekerjasama, berderma, menyejahterahkan dan menumbuhkembangkan oranglain, menegakkan keadilan dan kebenaran, berperilaku jujur, memaafkan, menjaga lingkungan hidup, menjaga amanat, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak menipu, tidak berjudi, tidak meminum-minuman yang memabukkan, mematuhi norma-norma Islam dalam perilaku seksual, berjuang untuk hidup sukses menurut ukuran Islam dan sebagainya.
            Dimensi pengalaman ini pun terdapat dalam novel Kubah, yakni digambarkan dengan keadaan Karman yang seperti menemukan sesuatu yang hilang dibalik dirinya. Seperti pada kutipan berikut:
“Tetapi Karman menganggap pekerjaan membuat kubah itu sebagai kesempatan yang istimewa. Se-sen pun ia tak mengharapkan upah. Bahkan dengan menyanggupi pekerjaan itu ia hanya ingin memberi jasa. Bagaimana juga sepulang dari pengasingan ia merasa ada yang hilang pada dirinya. Ia ingin memperoleh kembali bagian yang hilang itu. Bila ia dapat memberi sebuah kubah yang bagus kepada orang-orang Pegaten, ia berharap memperoleh apa yang hilang itu. Atau setidaknya Karman bisa membuktikan bahwa dari seorang bekas tahanan politik seperti seperti dia masih dapat diharapkan sesuatu!” (Kubah : 209-210).
Dan yang terakhir : “Karman mendengar pujian-pujian itu. Rasanya dia yakin bahwa dirinya tidak berhak menerima semua pujian itu. Tetapi wajah-wajah orang Pegaten yang berhias senyum, sikap mereka yang makin ramah, membuat Karman merasa sangat bahagia. Karman sudah melihat jalan kembali menuju kebersamaan dan kesetaraan dalam pergaulan yang hingga hari-hari kemarin terasa mengucilkan dirinya. Oh, kubah yang sederhana itu! Dalam kebisuannya, mahkota masjid itu terus mengumandangkan janji akan memberikan hak asasi kepada setiap manusia yang sadar kemanusiaannya. Dan Karman merasa tidak terkecuali.” (Kubah : 211)
           
Pada kutipan di atas digambarkan tokoh Karman yang memiliki sifat menderma. Ia membangun kubah tanpa mengharap upah se-sen pun.
Hubungan Antar Dimensi
            Akidah sendiri pada dasarnya sudah tertanam sejak manusia ada dalam alam azali (pra kelahiran). Akidah akan terpelihara dengan baik apabila perjalanan hidup seseorang diwarnai dengan penanaman tauhid secara memadai. Sebaliknya, bila perjalanan hidup seseorang diwarnai pengingkaran terhadap apa yang telah Allah ajarkan pada zaman azali, maka ketauhidan seseorang bisa rusak. Oleh karena itu, agar akidah seseorang terpelihara, maka ia harus mendapatkan penjelasan tentang akidah itu dari sumber-sumber formal Islam (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi).
            Dimensi pengetahuan atau ilmu menunjuk pada seberapa tingkat pengetahuan dan pemahaman Muslim terhadap ajaran-ajaran agamanya, terutama mengenai ajaran-ajaran pokok dari keberislamanan.
Dimensi pengetahuan atau ilmu mutlak diperlukan oleh seorang Muslim jangan sampai kita sebagai ummat Islam menjadi ingkar (murtad) seperti yang dijelaskan pada sosok tokoh Karman. Oleh karena itu, pengetahuan itu sangat diperlukan. Agar kita senantiasa eling pada-Nya.
            Dimensi pengalaman atau pengahayatan adalah dimensi yang menyertai keyakinan, pengalaman, dan peribadatan. Dimensi penghayatan menunjuk pada seberapa jauh tingkat Muslim dalam meraskan dan mengalami perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman religius. Dalam keberislaman, dimensi itu terwujud dengan dekat/akrab dengan Allah, perasaan doa-doanya sering terkabul, perasaan tentram bahagia karena menuhankan Allah, perasaan bertawakkal (pasrah diri secara positif) kepada Allah, perasaan khusuk ketika melaksanakan shalat atau berdoa, perasaan tergetar ketika mendengar adzan atau ayat-ayat Al-Qur’an, perasaan bersyukur kepada Allah, perasaan mendapat peringatan atau pertolongan dari Allah.
Dalam novel “Kubah” karya Ahmad Tohari. Dimensi pengalaman ini dapat digambarkan pada tokoh Karman. Hal ini dapat tergambar pada kutipan berikut:
“Tetapi Karman mendadak berhenti gagap. Termangu. Dua-tiga orang yang hendak sembahyang melawatinya tanpa peduli. Namun akhirnya seorang lelaki tua sambil berjalan menepuk pundak Karman. “Mari, Pak, sudah hampir ikamah.”
Dan seperti ada sesuatu yang mendorongnya, Karman ikut melangkah memasuki halaman masjid.”(Kubah: 30)

Pada kutipan tersebut menjelaskan tentang Karman yang akan melakukan ritual sholat. Padahal ia telah lama meninggalkan salah satu rukun Islam tersebut. Sejarah kelamnya yang menjadi antek PKI membuatnya melupakan Tuhan-nya. Tapi ketika terbebas dari Pulau Buru ia pun melaksanakan sholat kembali.
            Atau bisa juga digambarkan pada sosok Kastaghetek sebagai tokoh lataran dalam novel ini. Hal ini dpat digambarkan pada kutipan berikut:
“Dari kampung, jauh di seberang sungai terdengar kentongan dipukul dua kali. Fajar akan menejalang dua jam lagi. Bulan hampir tenggelam. Bumi dan seisinya seakan sedang tidur. Langit pun sepi, tak ada sesuatu yang bergerak. Tetapi di atas rakitnya, Kastaghetek masih sibuk. Setelah berganti pakaian, Kasta menggelar tikar kecil, lalu berdiri menghadap ke barat. Di puncak malam yang amat hening, seorang diri Kastaghetek menegakkan shalat. Zikirnya khusuk. Dipandang dari ketinggian langit, Kasta larut dalam tasbih semesta. (Kubah: 166)
Ketika rasa takut masih mencengkram hatinya, Karman sempat berpikir tentang Kastaghetek. Ketenangannya. Dan keikhlasannya menjalani hidup. Karman Iri. (Kubah: 170)
           
            Ketika seseorang menghadirkan empat dimensi di atas dalam kehidupannya, sering pengalaman-pengalaman batin yang sangat individual terjadi. Ketika seseorang melakukan ibadah ritual haji (dimensi peribadatan/syariah), pengalaman-pengalaman batin yang sangat aneh terjadi. Ketika seseorang berderma kepada orang lain (dimensi pengamalan/akhlak), maka dalam hatinya berdesir sebuah perasaan puas yang halus. Ketika seseorang mendapat penjelasan tentang surga dan neraka (dimensi pengetahuan/ilmu) dalam kalbunya muncul perasaan-perasaan aneh yang sulit dipahami. Ketika seseorang sadar bahwa setan selalu menggodanya (dimensi keyakinan/akidah) maka ada nuansa perasaan subjektif yang sangat kuat menyelusup dalam sanubarinya.
            Keempat dimensi di atas pun tergambar dalam  novel ini. ketika Kamran meninggalkan segala bentuk peribadatannya ia pernah meninggalkan Islam (murtad) dengan menjadi antek PKI, itu artinya dimensi pengetahuan atau ilmu yang dimiliki Kaman bisa dikatakan tidak terlalu tinggi atau memahami. Tetapi ketika bebas sebagai tahanan politik, Karman pun memulai hidupnya kembali menjadi seorang Muslim, ia kembali melaksanakan sholat. Hal ini merupakan dimensi pengalaman atau penghayatan.
            Atau bisa juga dijelaskan pada sosok Karman tatkala ia membangun sebuah kubah, ia mendapat sebuah pengalaman aneh sebelum yakni menjadi antek PKI bahkan sebagai tahanan politik di Pulau Buru. Lalu ia membuat kubah dengan sangat hati-hati, ia niatkan menjadi sebuah ibadah. Se-sen pun ia tidak mendapatkan upah, dan tatkala ilmu yang didapatnya mengenai membuat kubah dan membangunnya untuk orang desa. Ia merasa sadar dan menemukan sesuatu yang hilang dalam dirinya.
Daftar Pustaka
Ancok, Djamaludin. & Suroso, F. N. 1995. Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nurgiantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Tohari, Ahmad. 2001. Kubah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.



UNSUR DIMENSI RELIGIUSITAS DALAM NOVEL “KUBAH” KARYA AHMAD TOHARI UNSUR DIMENSI RELIGIUSITAS DALAM NOVEL “KUBAH” KARYA AHMAD TOHARI Reviewed by Gusti Trisno on 15:13:00 Rating: 5
Powered by Blogger.