Hal-Ikhwal Korupsi di Acara Roadshow Puisi Menolak Korupsi ke-36


Pada abad pertama, Isa as., merekrut Naimi dan Zarkeus tetapi ditentang oleh para pengikutnya. Hal ini disebabkan keduanya merupakan penarik cukai (pajak) yang bekerja untuk bangsa Romawi. Pada saat itu ada stigma negatif terhadap penarik cukai (pajak), karena tidak semua pajak yang ditarik ke warga negara masuk ke kas negara. Tetap sebagian besar masuk ke kantong penarik pajak.
            Pada abad keenam, jejak korupsi muncul ketika Ali bin Abi Thalib menjadi gubernur. Kemudian, ada saudaranya yang meminta jabatan padanya. Ali menjawab dengan memberi pedang, “Lebih baik kamu pergi ke pasar dan merampok daripada kamu menajak saya memanipulasi jabatan.
            Setelah dua ratus tahun berkuasa, VOC dinyatakan bangkrut oleh peradilan Belanda. Karena tiga hal, yakni: terlalu banyak melakukan konflik dan peperangan dengan kerajaan nusantara, kas negara kosong untuk ongkos peperangan, dan banyak aparatur yang korupsi. Akibat hal tersebut, kekuasaan VOC digantikan oleh kerajaan Belanda. Namun, ternyata korupsi masih saja ada. Bahkan, kini bukan hanya aparatur dari Belanda yang melakukan, juga terdiri dari pribumi yang diangkat menjadi aparatur. Salah satu contoh nyata, di zaman dahulu ketika Belanda hendak membangun rumah-rumah penduduk dengan papan dan biaya pemerintah. Aparatur yang berasal dari pribumi itu menaikkan harga genteng dari harga belinya. Korupsi jenis itu pada saat ini dikenal dengan istilah mark up.
            Di era Soekarno, Pramoedya Ananta Toer menulis novel yang berjudul korupsi sebagai bentuk perlawan, yang kemudian diikuti oleh sastrawan, penulis, dan jurnalis yang lain. Sebut saja, Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis. Kemudian di era Soeharto, Ramadhan KH menulis novel yang berjudul “Ladang Perminus” yang merupakan metafora dari korupsi yang dilakukan pertaminan yang besar-besaran. Namun, hadirnya novel tersebut. Tidak membuat sastrawan berani terang-terangan mengungkap secara bersama-sama. Perlawanan terhadap korupsi masih dilakukan sendiri-sendiri. Padahal, belakangan korupsi dilakukan secara berjamaah.
            Sambutan Sosiawan Leak bak seperti pemutaran dongeng mengenai korupsi itu segera disambut tepuk tangan riuh oleh peserta yang mendatangi kongres PMK ke 36 di Banyuwangi itu pada akhir Februari lalu. Acara yang dihadiri oleh awak laskar PMK (Puisi Menulis Korupsi) dari berbagai kota itu membuat suasana tambah semarak dengan satu-satu penyair yang membaca puisi dengan tema korupsi. Sebut saja, Elisa Koraag (Jakarta_, Lathifa Edib (Yogyakarta), Hando Suyoko (Ngawi), Asmoro Alfarabi (Pasuruan),  Sarwendah Rahman (Malang), dan masih banyak lagi. Selain dihadiri para awak PMK, acara ini juga diikuti oleh guru-guru pengajar bahasa Indonesia atau seni.
            “PMK secara mandiri dan gotong royong menerbitkan antologi puisi dan roadshow yang diselenggarakan bertujuan untuk menolakan korupsi secara berjamaah. Sebab, perlawanan kepada korupsi itu menjadi kewajiban semua warga negara.” Ungkap Sosiawan Leak yang menjadi koordinator PMK.
            Selain acara roadshow dan pembacaan puisi oleh para penyair. Acara ini juga mengemas diskusi interaksi seputar korupsi, penulisan puisi, dan pembentukan karakter siswa dengan pengajaran sastra. Untuk materi pembentukan karakter siswa dengan pengajaran sastra sendiri diberikan oleh Akhmad Nurhudah.
            Guru SMAN 1 Pesanggarahan Banyuwangi itu memberitahukan bahwa, “Pengajaran sastra diyakini dapat membantu proses pembentukan karakter siswa, karena di dalam kara sastra terkandung nilai-nilai positif, seperti nilai-nilai budaya, sosial, moral, kemanusian, hingga agama.”
            Pengemasan acara yang begitu menarik itu, membuat rasa antusias peserta bertanya. Seperti beberapa adik pelajar yang bertanya, bagaimana cara menulis puisi? Dan lain-lain. Pertanyaan itu langsung dijawab dengan memberikan praktik sekaligus. Selain pertanyaan seputar puisi. Tentu tema tentang korupsi yang paling banyak ditanyai. Seperti saya, misalnya yang menanyakan apakah para awak PMK itu tidak takut dengan acara-acara penolakan korupsi seperti ini.
            Dan, tentu mereka menjawab tidak takut dengan tegas. Hal ini menyiratkan pesan kepada kita semua. Untuk benar-benar menjadi orang yang menolak korupsi dan tidak melakukan korupsi juga mulai dari hal kecil. Sebagaimana diungkap AA Gym, jika kita ingin menjadi makelar kebaikan dengan prinsip 3M: mulai dari yang terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari saat ini. Jangan sampai ketika kita menjadi orang yang menolak korupsi. Malah, melakukan hal-hal yang berbau korupsi sekalipun dalam skala kecil. Contoh: kuliah jam tujuh, kita datang jam tujuh lima belas. Nah, selama lima belas menit itulah kita korupsi. Jenis korupsi waktu namanya.
            Oke! Sampai di sini, liputannya! Semoga bermanfaat! Dan, sampai berjumpa di acara PMK lainnya! Satu hati tolak korupsi!



Hal-Ikhwal Korupsi di Acara Roadshow Puisi Menolak Korupsi ke-36 Hal-Ikhwal Korupsi di Acara Roadshow Puisi Menolak Korupsi ke-36 Reviewed by Gusti Trisno on 11:20:00 Rating: 5
Powered by Blogger.