Waspadalah, Penipuan Kini Bertransformasi

--pariwara--

Mama minta pulsa. Sekarang Mama sedang ada di kantor polisi. Nanti Mama hubungi kamu bisa kirim ke nomor XXXXX.
            Pernah mendapat SMS seperti itu? Mungkin, kita sudah terlalu sering mendapatkannya apalagi di saat tahun 2000-an. Pasalnya, SMS itu seperti menjadi barang biasa yang diterima. Tapi, bagi sebagian orang SMS tersebut dianggap sesuatu yang beneran. Akhirnya, si penerima mengirim pulsa beneran ke nomor yang dituju.
            Tak percaya, Pak Mama (demikian orang yang ditangkap) tahun lalu mengakui jika ia memiliki penghasilan jutaan rupiah setiap harinya. Huh, benar-benar penipuan yang menyebalkan!
            Selain, SMS Mama minta pulsa. Muncul penipuan SMS berkedok sama yakni, “Bapak tukokne pulsa, Le.” Saya yang pernah mendapat SMS ini benar-benar ngakak. Pasalnya di rumah, Ayah saya menggunakan bahasa Madura. Gimana caranya bisa pakai bahasa Jawa. Kan nggak nyambung. Aneh kan? Tak sampai di situ, penipuan berbentuk undian sepeda motor atau mobil dari operator juga ada. Anehnya, website yang mereka cantumkan berbentuk blogspot(dot)com. Hal ini mengungkapkan bahwa si penipu tidak benar-benar modal dengan menggunakan blog gratisan. Hihihi.
            Nah, selain SMS ternyata juga ada lho penipuan berbentuk telepon. Saya pernah mengalami hal ini tiga kali. Selama masa kuliah. Untuk lebih jelasnya, saya akan menceritakannya.
            Peristiwa 1
            Tempat            : Situbondo (Tepat ketika pulang kampung)
            Waktu             : Semester 1
            Peristiwa tutur
            Penipu : Selamat pagi, Anda memenangkan hadiah 10 juta dari bank (tempat saya menabung) bekerja sama dengan pihak provider (nama operator kartu saya). Oleh karena itu, Anda harus ke ATM segera untuk mencairkan.
            Saya tak langsung menjawab. Dulu pas saya SMP, kakak pertama saya mendapat telepon dengan kata yang nyaris sama. Memang dalam pikiran saya, ada keinginan untuk pergi ke ATM guna mengambil beberapa rupiah untuk uang jajan.
            Saya    : Baik, saya akan segera ke ATM. (Sambil mematikan panggilan).
            Si penipu kembali menelpon dan menyatakan, bahwa nyawa saya selama sehari berada di tangan mereka. Jadi, telepon nggak boleh mati.
            Saya mengelus dada. Dan, mengikuti keinginan mereka. Apalagi, mereka mengetahui jarak rumah ke ATM. Sesampainya di mesin ATM, bodohnya saya mengikuti mantra yang diucapkan mereka. “Halo Bank Ini.” Ucap saya. Kemudian, mereka menyuruh memencet ini-itu. Dan saya menyanggupi, setelah itu telepon terputus. Saya langsung tersadar. Jangan-jangan  apa yang mereka lakukan tadi hipnotis dengan media telepon. Segera saya cek saldo yang sekitar dua ratus sekian ribu. Ternyata masih ada. Pun, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil semuanya. Tentu disisakan lima puluh ribu.
            Sampai di rumah, saya berkeringat. Telepon saya matikan. Kemudian setelah tenang saya hidupkan kembali.
            Penipu : Bagaimana uangnya sudah bisa diambil? Tampaknya, saldo Anda tidak mencukup. Jadi minimal harus punya saldo lima ratus ribu ke atas. Baru bisa dikirim hadiahnya.
            Saya tak menjawab. Dalam hati ingin memaki.
            Penipu : Tidak harus ATM sendiri kok. Bisa juga gunakan Bank Itu, Bank Anu, dan Bank-Bank lain.
            Dan, saya kembali mematikan telepon itu. Setelah itu, memaki penipu itu melalui SMS. Bahwa saya sudah tahu kalau itu penipuan.
Peristiwa kedua
Lokasi : Situbondo
Waktu : Liburan semester
Penipu : Selamat Anda memenangkan undian (hampir sama dengan peristiwa satu).
Saya meladeni dia seperti peristiwa pertama. Namun, sesampainya di ATM saya langsung mengambil uang tabungan satu juta lebih. Sebab, saya takut mereka bisa melakukan pengambilan uang. Diluar kesadaran saya. Maklum waktu itu, saya terlalu polos. Hehe.
Peristiwa ketiga
Lokasi : Jember
Waktu : Jelang Maghrib
Penipu : Selamat Anda memanangkan undian (hampir sama dengan peristiwa satu dan dua, bedanya kali ini ada embel-embel akan dapat pulsa satu juta)
Saya    : Saya masih di kampus. Nanti saya ke ATM.
Dan, saya membohongi mereka dengan tidak ke ATM. Melainkan ke kost-an untuk melakukan ibadah Maghrib. Mereka kembali menelpon.
Penipu : Sudah di mesin ATM, Pak.
Saya    : Belum, sebentar lagi. Ini masih di jalan. (Suasana di dekat kost saya begitu dekat dengan jalan raya. Jadi, suara knalpot begitu kentara. Padahal, aslinya saya masih mau melakukan ibadah Maghrib). Telepon kemudian saya matikan, dan usai menunaikan ibadah Maghrib. Penipu itu kembali menelpon.
Penipu : Nanti sesampainya di ATM. Bilang ya, “Halo Bank Ini.”
Saya    : Siap (Lantang dan tersenyum)
Telepon kembali saya matikan. Mereka kembali menelpon dan menceritakan kalau nyawa saya malam ini ada di tangan mereka. (Duh, ngeri kan seperti malaikat pencabut nyawa saja).
Penipu : Sudah sampai di ATM kan?
Saya    : Sudah, namun masih ngantri. Kebetulan di kampus ada dua mesin atm Bank Ini. Dan sama-sama full. Saya ada di urutan nomor lima pada mesin yang mengeluarkan lima puluh ribu.
Penipu : Bagus, nanti bilang, “Halo Bank Ini.”
Saya    : Siap (Kembali lantang dan menyungging senyum).
Detik berganti menit.
Penipu : Sudah sampai?
Saya    : Sudah. Tapi ATM-nya eror.
Penipu : Anda jangan mempermainkan saya ya! Anda dari tadi berbohong kan? Tidak tahu berbohong itu dosa dalam agama?
Saya    : $$$@#@$@$@@
Langsung mematikan telepon dan puas tertawa.
Selain penipun tersebut, kini penipuan semakin semarak. Seperti yang diungkap akun We Love Unej berikut:



Harus eling lan waspodo yo rek!



Waspadalah, Penipuan Kini Bertransformasi Waspadalah, Penipuan Kini Bertransformasi Reviewed by Gusti Trisno on 10:12:00 Rating: 5
Powered by Blogger.