Ada Beban Universitas di Pundakmu




Bersama Aulia Mika (Kiri) dan Eris (Kanan). Kami semua anak PBSI.
 Kebingungan menyangkiti. Bagaimana tidak, sebagai mahasiswa semester enam. Rasanya saya ingin berbuat lebih terhadap universitas. Sebab, sejak masuk tahun 2013. Diri ini tidak berbuat apa-apa. Prestasi pun tidak ada.
            Hal tersebut terjawab dengan bertebrangannya selebaran lomba Pekan Seni Mahasiswa Regional. Saya pun segera mendonwload syarat dan ketentuan lomba di web universitas. Setelah, cukup memahami. Diri ini pun memutuskan berangkat seorang diri ke kantor kemahasiswaan yang terletak tak jauh dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Sesampainya di sana, saya segera mengisi formulir pendaftaran.
            “Boleh ikut dua tangkai seni, Pak?” tanya saya di tengah kebingungan mimilih tangkai seni yang mana.
            “Tidak boleh. Pilih salah satu!” tegas Pak Budi.
            Mendadak dunia saya seakan runtuh. Bukan apa-apa, sebagai lelaki yang mirip Afghan ketika mengenakan kacamata atau Vidi Aldiano ketika kacamata dilepas. Sungguh, saya ingin mengikuti lomba membaca puisi. Eh, apa hubungannya ya nyanyi pop dengan membaca puisi? Ya, ada lah. Masak nggak tahu? Hiihih.
            Kembali ke fokus ya! Akhirnya saya pun memutuskan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya bahwa harus mengikuti tangkai seni penulisan karya sastra. Kategori penulisan cerpen. Setelah mengisi formulir sekaligus melengkapi persyaratan perlombaan. Tubuh ini melangkah ke luar ruangan.
            Tak banyak persiapan yang dilsayakan. Jangankan latihan menulis, yang ada hanya proses membaca yang semakin diperbanyak. Pun, ketika mengikuti TM yang membuat saya tidak mengikuti satu mata kuliah.
            Saya pasti bisa menjadi perwakilan universitas! Saya optimis ketika keluar dari ruangan TM.        
            Langkah selanjutnya adalah meminta doa kepada keluarga besar, guru-guru terdekat, dan teman-teman tentunya. Perlombaan pun dimulai. Pada penulisan karya sastra. Dibagi menjadi dua, hari Kamis (28/4) untuk penulisan lakon dan puisi, dan Jumat (29/4) untuk penulisan cerpen. Hal ini dikarenakan penulisan cerpen diikuti oleh 49 peserta. Dan, saya berada di nomor urut tiga.
            Ternyata, saya tak sendiir dalam mengikuti lomba cerita pendek itu. Di PBSI sendiri terdapat teman-teman seperjuangan, seperti Weti, Sheila, Atika, dan Imeylda. Kami semua berjuang. Agar bisa memberikan yang terbaik untuk PBSI.
            Di tengah ruangan peperangan, hadir Bu Sunarti dan Bu Titik yang bertindak selaku juri penulisan. Beliau berdua merupakan dosen Sastra Indonesia di Fsayaltas Ilmu dan Budaya. Pun, tema segera diungkap. Sesuai dengan perkiraan: lokalitas.
            Akibat hal tersebut, saya tidak merasa kesulitan untuk memulai cerita. Naskah garapan tentang baung pun selesai sebelum dua jam. Pun, diri ini bisa berleha-leha sejenak. Sambil membaca. Menulis di kertas kosong, tentang kesalahan penulisan yang terjadi. Setelah itu, tepat jam sebelas. Peserta lomba keluar untuk istirahat sholat Jumat. Dan, diperkenankan kembali jam satu siang.
            Usai sholat Jumat. Saya pun melakukan tindakan self editing. Membuang bagian-bagian yang mungkin tidak penting. Lepas, itu berhenti sejenak. Memerhatikan peserta lain yang sibuk menulis. Beberapa peserta yang sudah menulis duluan, segera keluar dari ruangan peperangan. Saya tidak langsung mengikuti mereka. Bukan karena tidak yakin terhadap naskah yang telah selesai ditulis itu. Tapi, rasanya tidak enak hati. Langsung keluar dari ruangan itu, apalagi masih banyak peserta khususnya teman-teman PBSI yang belum selesai.
            Dan, ketika Dik Imeylda keluar ruangan. Saya turut melakukan hal yang sama. Lepas itu, memperkuat doa. Hari demi hari terus berganti. Ummi yang mengetahui lomba tersebut tak henti menanyakan kapan pengumumannya, begitu pun Bu Hamidah (Guru Bahasa Indonesia) ketika masih di SMAN 1 Panarukan. Namun, sayang, saya tidak memiliki kekuatan untuk menanyakan kepada pihak Kemahasiswaan Pusat. Bukan apa-apa, membaca naskah 10 halaman yang diikuti 49 peserta. Pasti membutuhkan waktu yang banyak. Di tengah penantian tersebutlah, saya banyak melakukan shalat hajat.
            Dan....
            Usai sholat Isya pada tanggal 9 Mei, saya mendapatkan jawaban yang mampu membuat saya ingin berteriak.
            Yth. Sutrisno Gustiraja Alfarizi (No. Peserta 03) selaku juara 1 penulisa cerpen peksiminal,  wajib hadir pada hari Selasa, 10 Mei jam 2 siang di ruang sidang lantai 2 kantor pusat.
            Pak Budi Mawa.

            Saya bersyukur, dan langsung menelpon orang tua, Ummi, guru-guru agar mereka memberi banyak doa. Dan, benar saja, lomba di Jawa Timur memberi saya banyak rezeki selanjutnya. Senin (16/5) tepat jam 8 pagi saya bersama Mas Ibnu, Dik Sukresmi, Pak Budi, dan supir universitas segera berangkat ke Malang. Saya memilih duduk di belakang bersama Mas Ibnu. Lelaki gondrong yang berasal dari Fakultas Ilmu Budaya. Sementara, Sukresmi duduk di bangku tengah. Sedangkan, Pak Budi menemani supir sholeh itu.
Semangat berangkat ke Malang
         
  Di mobil, kami (saya, Mas Ibnu, dan Dik Sukresmi) bercoloteh manja. *eh, kayak Syahrini saja. Maksudnya, kami saling sharing seputar kepenulisan. Secara bergantian Mas Ibnu dan Sukresmi saya berikan cerpen yang digunakan untuk seleksi di tahap universitas.
            “Tidak banyak penulis yang menulis cerita dengan tenang. Dan, aku menemukannya di cerpenmu. Hanya saja, kamu masih belum bisa memasukkan pembaca dalam cerita ini.” Komentar Mas Ibnu.
            Memasukkan pembaca dalam cerita? Rasanya hal itu memang kelemahan saya.
            “Selain itu?”
            “Coba baca cerpen berjudul Langit Senja karya Arum. Arum itu juara 2 pekan seni mahasiswa nasional. Nah, mungkin juri menyukai cerpen seperti itu.” Ungkap mahasiswa semester delapan itu, seraya memberi tabletnya untuk membuka web UKM Kesenian Kampus.
            Belum selesai membaca, baterai tablet lelaki itu habis.
            Ah! Padahal, sebentar lagi mencapai klimaks.
            Sementara membaca dengan hape sendiri? Bukan suatu hal yang baik. Apalagi, hapenya masih masuk dalam kategori studip phone. Hiiihi.
            “Nanti di hotel ada jaringan wifi, Mas. Aku lanjut baca di sana.”
            Sekarang giliran Sukresmi yang memberi komentar, “Duh, alurnya kok datar ya! Sepertinya semua konfliknya berat.” Ungkap perempuan asal Fakultas Hukum itu.
            Saya mangut-mangut bingung. Sejenak saya mengingat hasil diskusi dengan Bu Arju, Bu Ida, Pak Taufiq, Bu Sunarti dan Bu Titik.
            Kalau Bu Arju dan Bu Ida begitu percaya bahwa saya bisa memberi yang terbaik pada universitas. Sedangkan, bersama Pak Taufiq saya memprediksi tema yang akan keluar. Nah, baru bersama Bu Sunarti dan Bu Titik saya mengetahui titik lemah dan kekuatan cerpen itu.
            “Saya suka penceritaan cerpen yang seperti ini. Mas Gusti memulai dengan konflik yang mendekati klimaks. Lalu flashback ke 10 tahun belakang. Dan, fokus tentang baung benar-benar dapat. Ada ya, Mas. Peserta lain yang sebenarnya bahasanya dapat. Tapi, dia terlampau detail. Mirip novel. Masak di awal paragraf bercerita, ‘pohon meliuk-liuk, mentari muncul, dan lain-lain’. Menurut saya, hal tersebut tidak dibutuhkan dalam cerpen. Cerpen itu terbatas dalam jumlah halaman. Jadi, harus pintar-pintar dalam mengemasnya. Supaya memiliki daya pikat bagi pembaca.”
            Saya tersenyum mendengar penuturuan dosen yang telah melahirkan dosen saya di PBSI seperti Pak Taufiq dan Bu Ida itu.
            “Mas Gusti bingung apa?”
            “Saya ke sini, ingin mengetahui titik lemah dalam penulisan cerpen. Dan, kok bisa mendapat juara 1, Bu.”
            Dosen Sastra Indonesia itu mengungkapkan jika terdapat tiga juri dalam perlombaan kemarin. Dua juri memberi nilai terbaik. Sedang, satu juri tidak. Akibat hal tersebut, terjadi gonjang-ganjing dalam penentuan siapa yang juara. Sekalipun malaikat tahu, aku yang jadi juaranya? *eh, maafkan Afghan menyanyi tidak pada tempatnya*.
            Kembali ke fokus.
            “Tapi ya, karena satu lawan dua. Akhirnya juri yang memberikan nilai kecil itu kalah dengan kami. Mas Gusti tetap menjadi juara 1.”
            “Menurut Ibu, kira-kira tema apa yang akan keluar?”
            “Kalau menurut saya, temanya nasionalisme, solidaritas mahasiswa, isu-isu terbaru, dan mungkin bisa persahabatan.”
            Setelah itu, kami pun berdiskusi seputar bahan bacaan. Mulai novel Lima Sentimeter hingga Para Priyayi-nya Umar Kayam.
            “Terima kasih, Bu, atas waktunya.” Pamit saya, setelah jam menunjukkan hampir matakuliah Penulisan Buku Ajar dimulai.
            Dan, sore harinya saya bertemu dengan Bu Sunarti.
            “Mas Gusti?” beliau memastikan pemuda unyu yang dihadapannya.
            “Iya, Bu.”
“Silakan duduk. Sebelumnya, saya ingin mengetahui proses kreatif penulisanmu.” 
Saya segera bercerita pada dosen Sastra Indonesia bahwa dulu di masa kecil terdapat mitos baung yang berkembang. Di mana, orang yang menjadi baung itu biasanya orang yang meninggal tidak diterima bumi. Penyebabnya macam-macam, bisa karena kelakuan ia semasa hidup tidak baik. Atau pekerjaannya yang tidak baik. Semisal pesugihan, menjadi dept collector, dan lain-lain.
             Setelah itu, saya pun bercerita seputar pengalaman mengikuti perlombaan. Dulu, dulu sekali. Pas masih SMA kelas 12 saya pernah menjadi pemenang ketiga sebuah event penerbit indie. Selain itu, saya juga pernah menjadi pemenang ketiga dalam lomba menulis cerpen Islami tingkat fakultas. Pun, beberapa tulisan saya seperti cerpen, liputan, essay, dan kisah inspiratif telah dimuat di beberapa media massa.
“Dengan pengalaman seperti itu, saya yakin mas Gusti bisa memberikan yang terbaik.”
            Saya menunduk. Perkataan tersebut seperti memberi banyak beban dalam pundak. Begitu banyak orang yang percaya bahwa saya bisa memberikan yang terbaik bagi kampus perjuangan. Tapi, mengapa rasa percaya diri langsung hilang.
            Kami pun berdiskusi seputar bahan bacaan.
            “Menulis itu butuh banyak membaca, Mas. Mumpung masih ada waktu sekitar dua hari. Mas bisa membaca cerpen-cerpen terkenal. Agar kosakatanya semakin kaya.” Saran Bu Sunarti. “Buku yang dibaca itu secara tidak langsung memengaruhi tulisan kita. Makanya, lahaplah semua buku. Membaca buku berat itu penting, termasuk tentang filsafat. Mas Gusti suka baca apa?”
            Saya segera menjawab, jika dulu SMA menyukai buku karangan Kang Abik, Asma Nadia, dan Tere Liye, Pipiet Senja. Namun, baru kuliah semester lima saya berani membaca buku-buku berat. Termasuk sastra feminisme dan seksualitas.
            “Masih belum telat.”
            Kami terus berdiskusi. Hingga tepat jam empat sore. Beliau harus memberi kuliah.
            “Mas?” Sukresmi memanggil, sekaligus menghentikan ingatan tentang diskusi bersama dosen-dosen itu.
            “Aku baca lakonmu, Dik.”
            “Duh, nggak ada Mas yang diprint. Adanya di laptop.” Jawabnya.
            Pembicaraan kami tak terhenti. Namun, kami sibuk dengan dunia masing-masing. Sukresmi dan Mas Ibnu yang mulai mengantuk. Sedang, bukan saya banget jika mengantuk dalam perjalanan. Hhiiih. Akhrinya, saya membaca Antologi Cerpen Indonesia-Malaysia. Sambil sesekali berhenti sejenak untuk membuka Facebook.
            Dan, tak terasa sekitar jam satu siang. Kami telah sampai di Malang. Dan, langsung menikmati sensani tidur di hotel yang memiliki lantai 18. Sedikit norak. Tapi, biarin.

Ada Beban Universitas di Pundakmu Ada Beban Universitas di Pundakmu Reviewed by Gusti Trisno on 10:08:00 Rating: 5
Powered by Blogger.