Bergotong-Royong dalam Menulis Novel



2 Juli 1961 ia mati dengan sebuah senapan yang ditembakan di kepalanya. Mati meninggalkan karya-karya yang membuatku tergila-gila. Aku suka tulisannya yang memandang hidup. Dan sejak mengetahui kisah hidup penulis itu. Aku mengagumi karyanya.
Entah mengapa aku ingin mati seperti ia. Bunuh diri. Tapi wajah Marini yang selama ini melekat di benakku seakan melarangku, menarikku dari imajinasi kematian. Aku harus hidup. Menajaganya sampai Tuhan yang menentukan.
Bukan karena jiwa ini yang lemah. Tapi untuk sekarang. Aku harus melawan wajah Marini yang melarangku melakukan hal bodoh. Aku tak pantas hidup. Aku tak berguna.
Lihatlah aku sudah menggantungkan tali-tali di langit-langit kamar. Ya, tali-tali itu sudah menarik leherku. Tinggal kutendang saja kursi yang kuinjak di kamar yang sepi dan kukunci. Secarik kertas sudah aku tidurkan di atas lantai, dan juga sebuah puisi terakhir untuknya. Agar ia tahu tentang semua alasanku.
Tulisan di atas merupakan blurb novel yang akan dibedah di Kelas Online Bimbingan Menulis Novel. Berbeda dengan kelas bedah novel sebelumnya, novel ini ternyata ditulis secara keroyokan (bersama-sama) dengan total 23 penulis. Tentu, jumlah tersebut membuat sensasi tersendiri.
Seperti diungkap Mel Ara, ternyata ide pembuatan novel ini berawal dari semangat para anggota KOBIMO yang ingin menghasilkan karya. Lalu Pak Kepsek Hengki Kumayandi sebagai pencetus ide merangkul semua penulis di KOBIMO yang mau bergabung. Ragiel Jepe sebagai pengampu kelas ini kemudian mempertanyakan seputar pemilihan tema, apalagi jika membaca blurb-nya seperti ada unsur thiller. Namun, hal tersebut langsung dibanta oleh Mel Ara disertai emotikon senyum, “Nggak thriller kok, itu cuma semacam konflik cerita aja, hehe. Memang agak tragis ya konfliknya.”
Pancingan pertanya si Pengampu Kelas langsung direspon oleh anggota KOBIMO lainnya. Seperti Baiq Cynthia yang mempertanyakan bagaimana dengan cara koordinasi menulisnya dan menentukan alur yang dikeroyok 23 penulis? Ternyata, ke-23 penulis membuat grup tertutup untuk tempat komunikasi. Hengki Kumayandi membuat pembagian per bab dan membuat outline, lalu kami selesaikan per bab sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Satu bab sekitar lima hari kalo nggak salah. Untuk soal bagian edit diserahkan ke Eva Sri Rahayu, ke-23 penulis menulis cerita sesuai outline aja. Lebih simpel sebenarnya, kami menulis apa yang bisa kami tulis, dan dipoles lagi oleh editor.
Penyatuan ide itu ternyata berasal dari satu kepala, lalu dibahas bersama-sama. Setelah mendapat mufakat atas ide tersebut lalu dibikinlah outline dan dikembangkan oleh masing-masing penulis sesuai jatah babnya.
 “Bagaimana nyatuin karakter tulisan? Bagaimana solusinya kalo ada salah satu penulis ada sedikit apa namanya 'macet' gitu?” tanya  Shoma Noor Fadlillah.
“Penggarapan novel ini pun sebenarnya nggak selalu mulus. macet pasti ada, dan itu lumayan mengulur waktu. Solusi saling mengingatkan aja sih ya.” Ungkap Fina Lanahdiana.
Kendala: susahnya koordinasi penulis yang begitu vanyak, susah menyatukan kepala dalam satu karakter, penyatuan per bab yang kadang berhenti, dan yang paling penting, menemukan penerbit itu juga nggal mudah. Lanjut perempuan itu kemudian.
 Menurut Riawani Elyta dalam blognya untuk sebuah novel yang ditulis oleh puluhan penulis, novel ini tergolong rapi dan smooth. Kita seperti membaca novel yang ditulis oleh satu orang. Gaya tutur di setiap bab nyaris sama. Perjalanan alurnya juga mengalir lancar. Kalaupun masih terdapat beberapa lubang plot yang belum tertutup sempurna, hal itu tidak sampai mengurangi keutuhan penyampaian kisah dalam novel ini.
Ternyata rahasia terbesar dalam menulis novel ini adalah tetap pada patuh terhadap outline yang dibuat bersama-sama. Sebab, khawatir jika melenceng dari outline. Cerita akan melebar dan berkembang ke mana-mana.  Padahal, jika melihat kendala tersulit adalah saat kami  (si penulis) saling gontok-gontokan pada waktu ada gesekan beda pendapat. Hal tersebut juga menjadi keseruan tersendiri.
Awalnya novel ini berjudul “Young Writer”, namun atas kesepakatan penerbit akhirnya judul berubah menjadi “Sebanyak Tetesan Hujan Kali Ini". Judul yang semacam filosofis ini tidak diungkap dalam bedah tersebut. Malah, Ain Saga menjawab dengan gaya bercandaan yang khas, “Beli, buka dan baca deh.. ntar ada hujan dari matamu hihi.”
Kekuatan utama dalam novel ini adalah masing-masing penulis mendapat kuota untuk menjabarkan per-bab yang sudah dibagi sebelumnya oleh pemilik outline, yaitu kepala sekolah KOBIMO, Hengki Kumayandi. Saat masing-masing bab dipresentasikan untuk dikritisi, semua penulis bebas memberi saran dan masukan pada masing-masing hasil jabaran outline per-bab. Hasil akhir, penulis wajib menulis kembali hasil revisian sebelum jatuh di meja editor, dan dibantai sekali lagi. Setiap bab baru lahir, kami semua wajib hadir untuk duduk bersama dan sharing tentang tulisan tersebut. Di situlah, kadang berbenturan ide-ide dari sekian kepala dan keseruan tak terhindari pun, terjadilah. Daya pikat novel ini dari pesan pada karakter tokoh utama yaitu: Putra, yang sabar menjalani hidup dengan segala cinta, kerinduan pada sosok ayah, kejujuran dalam profesi sebagai "Young writer", juga tentang ketabahan dan ketangguhan.
Kelas ini ditutup dengan Sri Rahayu yang melontarkan kesulitan dalam mengedit naskah ini mengingat ada perbedaan karakter beberapa penulis. Meskipun kebanyakan secara alami sudah satu napas. Karena patuh pada sinopsis dan outline. Juga para penulis cukup menjiwai tokoh-tokoh yang ditulis.  Semoga dengan hadirnya novel ini, semakin memperkaya khasanah sastra Indonesia. Keep spirit! Keep write! Do the best!


Catatan: Tulisan ini pertama kali dibuat pada 02 April 2016 dengan berpedoman pada dokumen dan komentar di kelas Bedah Novel tertanggal 28 Maret 2016. Kini, karena suatu dan lain hal grup KOBIMO tak lagi menyapa di Facebook. Walaupun begitu, ilmu yang diperoleh di grup itu tak akan lekang oleh waktu.  


Baca Juga:
·         Apakah Aku Harus Menulis?

Bergotong-Royong dalam Menulis Novel Bergotong-Royong dalam Menulis Novel Reviewed by Gusti Trisno on 10:48:00 Rating: 5
Powered by Blogger.