Cerpen "Jelmaan Kepompong" (Dimuat di Buana Kata Edisi 1 April 2017)

Kamu tidak akan pernah tahu, persahabatan mereka tumbuh mulai dari lagu Kepompong-nya Sindetosca dijadikan OST sebuah sinetron remaja. Persahabatan mereka begitu cukup dekat, awalnya mereka terdiri dari tiga orang yakni Della, Ardo, dan Romi. Dan kamu pun berusaha menjadi salah satu di antara mereka. Mencoba masuk dan tiba-tiba ditolak tanpa alasan yang tidak kamu mengerti. Namun, anehnya mereka malah menerima anggota baru bernama Rizi yang baru saja masuk dalam sekolah mereka. Dan kebetulan sekelas di kelas XII

Baiklah, kamu mungkin tak memahami siapa Rizi itu. Kamu perlu mengetahuinya terlebih dahulu, sebelum mengambil kesimpulan pada pemuda itu. Rizi adalah seorang anak pindahan yang berasal dari Jember, selain itu ternyata ia adalah anak dari kepala sekolah, tempat di mana Della, Ardo, dan Romi belajar. Kehadiran Rizi pun memperkuat citra geng mereka se-antero SMA Baluran Situbondo.

Nyaris setiap hari mereka bercanda tawa, juga menyimak pelajaran dari guru, keempat sahabat itu sudah layaknya saudara. Tak ada satu pun yang membuat jarak antara mereka. Awalnya Della, Ardo, dan Romi berteman dengan Rizi karena mereka menilai jika anak kepala sekolah itu butuh teman agar mudah bersosialasi di tengah kejamnya SMA Baluran, namun ternyata kedekatan itu membuat mereka merasa memiliki anggota baru yang senasip dan sepenanggungan.

Sinetron remaja kesukaanmu tiba-tiba berhenti tayang, bukan karena rating-nya yang buruk. Tapi sinetron tersebut merasa bahwa sudah saatnya diakhiri, daripada ceritanya dibuat bertambah panjang karena ratingnya bagus. Pasti hal tersebut tak baik bagi penonton. Kamu pasti setuju bukan? Tapi tidak dengan keesmpat sahabat itu, mereka merenggut kesal, sebab lagu Sindetosca di setiap sore tak lagi mereka dengar bersama.

“Aku malas kalo kayak gini!” Ardo berdengus kesal, sambil memperbaiki kacamata yang bermata minus enam itu.
“Kita harus protes ke stasiun televisi yang menayangkannya!” Della memberi saran.
Kamu terdiam, bingung mencerna perkataan dua orang remaja itu.
“Ah, awalnya aku juga sebal. Mengapa sinetron itu dihentikan? Tapi, bukankah justru membuat kita fokus terhadap ujian nasional di depan mata!” Rizi mulai bersuara.

Romi, lelaki yang gemuk diantara Ardo dan Rizi hanya semakin buas dalam memakan kue yang disediakan ibu dari Della.
Kamu merasa bahwa mereka sudah tak sejalan. Dan benar saja, tiba-tiba salah satu dari mereka beropini.

“Mari kita satukan mimpi yang satu. Yakni menjadi pejuang untuk negeri!”

Kamu terbingung? Pejuang untuk negeri? Pekerjaan apa itu, begitu yang ada dalam pikirmu. Kamu pun mencari tahu, apakah yang dimaksud adalah TNI/Polri. Dan benar perkiraanmu, keempat sahabat itu mencoba menantang mimpi yang sama.

Kamu mungkin terkejut, bagaimana mungkin mereka bisa memiliki satu mimpi yang sama. Bukankah dalam kepala-kepala anak manusia meskipun otaknya beratnya sama tapi pikiran dan keencerannya jelas berbeda. Tapi, tidak dengan mereka. Kamu pun melihatnya jika mereka memiliki kesungguhan dalam mewujudkan mimpinya:

Ardo, yang memiliki minus enam tiba-tiba melakukan tindakan untuk mengurangi minus ke pengobatan alternatif.

Romi memperketat makanan yang masuk dalam tubuhnya.

Sementara Rizi dan Della yang merupakan anak berada diantara mereka hanya cukup menjalani latihan bersama.

Ya? Latihan bersama? Kamu kemudian melihat mereka, melakukan sit-up, push-up, lari-lari kecil, dan sederet aktivitas fisik lainnya. Akhirnya, sampai suatu ketika mereka memiliki badan yang lumayan bagus untuk mengikuti seleksi.
“Mengapa Ardo daftar jadi polisi?” seorang guru kemudian bertanya pada anak didiknya itu, apalagi jika melihat otak Ardo yang begitu cemerlang. Pasti sukses menjadi sarjana.

“Mencoba, Bu. Mimpi harus terwujud bersama De Kepompong!”

Bu Guru itu hanya tersenyum menanggapi pernyataan Ardo, kamu pun begitu. Tapi, tidak dengan Rizi. Ia tiba-tiba menarik diri terhadap ketiga sahabatnya, hingga suatu ketika kamu mengetahui alasan itu.
Cinta.

“Bagaimana mungkin kau mencintaiku?” tanya Della tak percaya.
“Haruskah cinta butuh alasan!”

Ardo dan Rizal bingung terhadap pernyataan Rizi yang sungguh tak diduga mereka.

“Tapi kita sahabat, dan tak mungkin bersatu. Jika boleh memilih aku menyukai Ardo. Dan tak mungkin kita bersama. Karena kita bersahabat.”

Rizi seperti ditimba godam. Kamu pun merasa tertimba longsor yang begitu menenggelemkan tubuh. Dan persahabatan yang kemudian menjadi cinta itu runtuh. Bahkan sampai mereka lulus dan menemui mimpi-mimpinya.

Kamu jangan kembali bingung, mimpi mereka kini tak lagi sama. Hanya Ardo yang mengentaskan mimpi di Polri. Sedang, yang lainnya berbeda. Bahkan, lebih tragisnya salah satu dari mereka yakni Romi meninggal dunia. Kamu mungkin bisa berpikir? Setelah, perseteruan itu Romi kembali kepada kebiasaan lama. Ia terus makan tanpa ada yang memerhatikan, makanya obesitas. Sedangkan Rizi dan Della kembali berkoalisi di suatu perguruan tinggi ternama, hingga benih-benih cinta antara mereka tumbuh, lalu koalisi itu berakhir di penghulu.

Kamu mungkin membayangkan bagaimana jika mereka bertemu dalam suatu reuni. Ya, hal itu memang terjadi.

“Ini siapa Rizi? Istrimu?”
“Ya, Della. Teman kita, sekarang menjadi istriku?”
“Mana Romi?”

Semua bingung. Kamu juga ingin bicara, tapi tak diizinkan oleh orang yang menciptamu dalam tulisan ini. Kemudian mereka pun mencari tahu kepada guru di sekolah yang juga datang di acara itu.

“Romi meninggal, beberapa tahun yang lalu karena obesitas!”

Mereka menyesal seketika, mengapa karena permasalahan sepele membuat tali silaturahmi merenggang!
            Jember, 08-11-16 5:22 lewat beberapa detik.


Cerpen dan ilustrasi gambar disalin dari buanakatatop.com
Cerpen "Jelmaan Kepompong" (Dimuat di Buana Kata Edisi 1 April 2017) Cerpen "Jelmaan Kepompong"  (Dimuat di Buana Kata Edisi 1 April 2017) Reviewed by Gusti Trisno on 14:29:00 Rating: 5
Powered by Blogger.