Curhat Seorang Guru

Saya mengenal guru ini sejak pelaksanaan Olimpiade Bahasa Indonesia tingkat SMA/Sederajat se-Jawa Timur. Awalnya, pertemanan kami di dunia maya tidaklah pernah terjadi. Jika sekiranya, saya tidak menandai poster Olimpiade Bahasa Indonesia kepada salah satu alumni-nya yang kebetulan teman saya di fakultas lain.



Pertemanan pun terjalin dan karena beliau meminta surat resmi tentang kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi kami. Maka, saya dan Hasbi pun segera menuju sekolah guru tersebut. Disambutlah, kami dengan situasi sekolah khas SMA; penuh keramaian luar biasa.

Saya lirik kanan-kiri para siswa dan segera menanyakan perihal guru tersebut.

“Mas, ruangan Ibu Asih (bukan nama sebenarnya) di mana ya?”
“Di ruang BK, di situ ruangannya.” Tunjuk siswa tersebut.

Saya dan Hasbi pun segera menuju ruangan yang ditunjuk. Sosok guru muda dan memakai kerudung segera menyambut kami.

“Yang mana Gusti nih?” tanya beliau.

Saya segera memperkenalkan diri, begitu pun Hasbi.

“Sebenarnya saya bukan guru bahasa Indonesia. Tunggu dulu ya, saya panggilkan guru bahasa Indonesia-nya.” Katanya, ramah.

Kami berpandangan, entah apa yang dipikiran Hasbi. Tapi, pikiran saya mengarah pada baju pramuka yang tak seragam digunakan oleh siswa. Apalagi dari sisi warna yang jelas-jelas berbeda. Saya jadi teringat sekolah dulu, sekalipun anak-anaknya terdiri dari orangtua yang berekonomi menengah ke bawah, tapi soal seragam jangan ditanya. Tak ada perbedaan. Tapi, di sini.

Beberapa menit kemudian, saya terus merenung. Sampai tiba saatnya, guru bahasa Indonesia yang kami tunggu tiba. Hasbi segera menjelaskan perihal teknis dan lain-lain, walaupun sudah ada di lembar yang kami berikan. Saya menambahi beberapa hal yang dirasa perlu untuk penjelasan.

Kami segera pamit, mengingat kami melihat potensi di kecamatan sekolah tersebut, masih ada sekolah SMA/Sederajat lainnya.

Dan baru-baru ini, saya dikejutkan oleh chating guru tersebut ketika saya bertanya seputar kehidupan muridnya.

Asih Sukaesih : Muridku, terkatung-katung nasibnya. Ayahnya tidak mengakuinya sebagai anak, karena anak itu putih dan ganteng. Sementara bapaknya hitam, ibunya hitam dan pamannya putih. Ibunya dicerai, dia ditinggal sendiri, dititip-titipkan pada saudara ibunya. Dia keluar dan tidak melanjutkan sekolah karena tidak ada yang mengurus biaya, tidak ada orangtua yang jadi tempat mengadu. Mungkin dia putus asa dan merasa rendah diri.
Gusti Trisno              : Kelas berapa Bu? Sekarang gimana nasib dia? Ibu tahu?
Asih Sukaesih           : Tidak tahu, kita kekurangan energi untuk mengurus anak-anak satu persatu sebab sebagian anak didik punya masalah berat yang sama. Cuma beda bentuk.
Gusti Trisno              : Lho jadi dia nggak tinggal sama Ibunya? Duh, Ayah seperti itu.
Asih Sukaesih           : Enggak. Masyarakat awam sekali dengan kualitas SDM rendah. Kalau sudah merasa yakin tentang suatu hal, sangat sulit untuk diubah. Karena muridku tampak beda dengan ayah-ibunya, dianggap hasil selingkuh,
Gusti Trisno              : Ya, Bu. Itulah tugas guru yang begitu berat. Saya juga merasakannya, ketika mengambil jurusan ini. Untuk apa kuliah di bahasa Indonesia? Kan bahasa sehari-hari, kenapa nggak yang lain, nggak ada tantangan. Dan sederet ungkapan lainnya. Ahh.
Asih Sukaesih           : Loh jangan salah, tugasmu berat.  Karena kalau kamu ngajar di lingkungan awam, kamu akan tercengang karena sebagian besar masyarkat kita gak terlalu paham bahasa Indonesia.
Gusti Trisno              :  Ya, Bu. Justru itu tantangannya. Kembali ke topik
Asih Sukaesih           : Kalau kamu serius, coba ke sekolahku, suruh tiap anak membuat argumentasi bebas barang satu paragraf. Akan sangat sulit kamu temukan yang bisa menulis dengan bahasa Indonesia yang benar.
Gusti Trisno              : Itu anak cowok apa cewek?
Asih Sukaesih           : Cowok, gak bisa dibayangkan kalau menimpa cewek.
Gusti Trisno              : Ahh. Gitu ya Bu? Hmmmm  ada kasus lain? Heheh, tanya sama guru BK nih.
Asih Sukaesih           : Aku bukan guru BK, cuma wali kelas dan guru ekonomi saja.
Gusti Trisno              : O gitu. Cerita kasus lain, Bu.
Asih Sukaesih           : Banyak dan menguras air mata.
Gusti Trisno              : Akan saya dengarkan. Ada nggak orangtua yang jual anaknya? Maaf terlalu frontal.
Asih Sukaesih           : Ada yang ngak punya orangtua, dipungut sama orang lain. Dan karena suaranya enak, maunya disuruh berhenti sekolah sama orangtua angkatnya. Disuruh jadi penyanyi tarkam[1]. Aku setengah mati ngerayu agar dia mau ngelanjutin sekolah SMA. Tapi gak semua menguras air mata, ada juga yg sukses dari nol. Sekarang menjadi marketing manajemen di sebuah hotel. Jangan nulis yang galau aja biar pembaca jadi lebih termotivasi.
Gusti Trisno              : Hehe. Ya, Bu. Nggak galau. Disuruh rekaman? Pasti cewek ya? Gimana hingga dia dapat orangtua angkat?
Asih Sukaesih             : Kalau pengen kaya inspirasi, entar PPL-nya cari sekolah
yang agak ke pinggir.
Gusti Trisno              : Gak pengen. Hahaha.
Asih Sukaesih            : Kalau di kota. Guru PPL-nya bisa-bisa dikerjain. Itu kerjaanku dulu pas SMA.
Gusti Trisno              : Aku juga. Hehehe. Kembali ke topik, Bu? Bagaimana proses dia, hingga membuatnya jadi anak angkat.
Asih Sukaesih           : Yang ini agak tertutup. Di luar jangkauanku. Perlu interview khusus. dunianya agak remang-remang. Sebetulnya aku khawatir dengan yang ini.
Gusti Trisno              : Kenapa Bu? Rasa khawatir seperti apa?
Asih Sukaesih           : Terjebak dalam dunia remang-remang
Gusti Trisno              :Duh, apakah orangtuanya ikut andil?
Asih Sukaesih           : Gak tau aku. Itu bisa kamu kembangkan sendiri sebagai inspirasi.
Gusti Trisno              : Itu anak yang nyanyi atau kasus baru?
Asih Sukaesih           : Yang nyanyi. Ok, aku juga mau nulis nih. Entar kita sambung lagi.
Gusti Trisno              : Ya, wis, makasih banyak ya Bu.
Asih Sukaesih           :  Siips (Y)

Renungan dari Chat Bu Asih


Dari chat di atas, Bu Asih menyatakan jika begitu banyak masalah yang menimpa muridnya. Sebagai seorang guru, beliau merasa khawatir terhadap perkembangan muridnya. Apalagi masuk ke dalam dunia remang-remang.

Jika kita melihat pelajar Indonesia dewasa ini yang katanya “nakal” dan melakukan kenakalan-kenakalan sejenis lainnya. Kita tidak perlu menyalakan mereka. Pasalnya, usia remaja adalah usia mencari jati diri. Dan seorang remaja jelas butuh sosok orangtua sebagai teman yang mengerti kondisi dan siap menerima cerita ini-itunya. Begitu pun seorang guru. Karena sejatinya, guru adalah orangtua di sekolah dan orangtua adalah guru di rumah. Maka, dibutuhkan sinergis kerjasama antara keduanya.

Di kasus yang lain, Bu Asih juga mengungkapkan keprihatinannya. Melihat kondisi muridnya yang tidak diakui anak oleh Ayah-nya. Saya pernah menjelaskan kasus serupa di catatan sebelumnya berjudul Ayahku Tak Menyimpan Surga di Balik Keringatnya.

Ah. Sungguh, bagaimana mungkin sesosok Ayah tidak mengakui buah hatinya karena hanya berbeda warna kulit? Apalagi sampai menyangka sang istri selingkuh? Tentu, saya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Entah, Ibu itu selingkuh atau tidak? Saya tidak tahu. Yang jelas, yang menjadi korban atas kejadian ini adalah anak.

Kasus ketiga yang diungkap Bu Asih adalah kesuksesan muridnya yang menjadi manejer di sebuah hotel. Tentu, hal ini merupakan prestasi yang luar biasa. Apabila melihat kondisi sekolah yang terletak jauh dari kota.

Dari ketiga kasus tersebut, kita bisa menyimpulkan jika tugas guru di masa depan seperti diungkap Bu Asih adalah berat. Semoga guru-guru di Indonesia bisa mengemban tugas berat tersebut.  Bismillah. Bisa! [!]
            Ditulis pertama kali di Situbondo, 28 Maret 2015





[1] Tarkam: antar kampung. 
Curhat Seorang Guru Curhat Seorang Guru Reviewed by Gusti Trisno on 08:40:00 Rating: 5
Powered by Blogger.