Gadis yang Mengalami Pelbagai Kesedihan

Anak Orang Miskin Manggil Mama

Hidup itu ibarat roda yang berputar. Kadang ada di atas, tengah, bahkan ada suatu masa kita berada di roda paling bawah. Ini adalah kisah seorang Gadis yang tampak riang di luar, tapi memiliki kegundahan hati yang teramat dalam.

Dulu, sewaktu SD kedua orangtuanya tinggal di sebuah rumah kontrakan yang begitu sempit. Sedang, beberapa keluarga dari Mama-nya hidup di garis yang sedikit beruntung dibanding dia. Pun, sebagai untuk menyambung silaturahmi. Mama dari Gadis ini mengikuti arisan keluarga setiap dua bulan sekali, sekalipun uang arisan begitu besar.

Peristiwa menyentakkan Gadis ini, seorang Tante-nya berkata, “Anak orang miskin manggil Mama. Nggak pantes.”

Sedih. Jelas, Gadis ini rasakan. Apalagi yang mengatakan masih termasuk saudara? Sepengetahuan saya, di dunia ini tak ada aturan hanya anak orang kaya yang boleh memanggil Mama atau Papa kepada orangtuanya?

Orang yang bukan keturunan Arab saja, menggunakan panggilan Ummi-Abi. Lantas, apa salahnya gadis ini menyebut Mama pada ibu kandungnya?

Dan apa yang bisa dilakukan gadis ini, ketika Tante-nya berkata, bahwa ia tak pantas memanggil Mama. Tak ada action yang dilakukan oleh Gadis ini. Jelas saja, tubuhnya masih terlalu mungil. Dan begitu pun, Mama-nya tak bisa berbuat banyak.

 


Berpindah Rumah


SMP merupakan masa manis untuk Gadis ini, akhirnya setelah banyak ikhtiar disertai amalan baik yang dilakukan. Kedua orangtuanya pun telah memiliki rumah sendiri, bahkan sampai membeli sebuah mobil keluaran terbaru. Bisnis yang dibangun kedua orangtuanya langsung melejit, seiring dia memiliki adik.

Ketika Tante mengetahui kesuksesan orangtuanya, perempuan setengah bayah itu mencibir usaha kedua orangtuanya, dengan berkata, “Paling dapat dari hasil ngepet.”

Gadis itu sudah beranjak remaja. Dia menggenggam tangannya untuk membalas perkataan Tante. Bagaimana tidak? Rezeki yang didapat kedua orangtuanya adalah halal. Ayah adalah seorang pekerja keras dengan menjajakan barang-barang rumah tangga pada Ibu-Ibu dengan membawa mobil pickup, sedang Mama adalah pegawai kantor kecamatan.

Mama segera menahan tangan gadis itu untuk tidak sampai membuat kondisi bertambah genting. Dan anehnya, perkataan, “Paling dapat dari hasil ngepet” selalu diucapkan Tante bahkan hingga sekarang sampai dia kuliah. Tentu saja, bara di hatinya semakin bertambah akibat ulah si Tante. Apalagi Tante-nya sampai berkata pada tetangga membuat pandangan tetangga sinis pada keluarganya.

Ah. Begitu kejam fitnah, melebihi pembunuhan segala.

Pelbagai Ketakutan Menyelimuti Si Gadis

Waktu terus berlalu, si Gadis mencoba menghapus jejak-jejak luka yang dibuat Tante dalam dirinya. Namun, ujian hidup masih menghadapinya. Waktu semester pertama, Mama mengalami rasa sakit yang luar biasa. Bahkan beberapa kali dioperasi. Karena penyakit ini-itu.

Segala macam cara dilakukan oleh keluarga, awalnya dokter memvonis Mama sakit lambung. Dan berbulan-bulan dirawat di rumah sakit daerah. Namun, setelah dibawa ke rumah sakit di daerah Malang. Akhirnya, keluarga pun tahu jika Mama mengidap penyakit hernia ke atas.

Menurut penjelasan dokter, penyakit tersebut adalah langka. Dan di rumah sakit di daerah Malang tersebut baru dua kali ada kasus penyakit itu.

Sontak, mengetahui keadaan Mama. Gadis yang ceria ini berganti menjadi pendiam seketika. Motivatornya lemah, ia bernasib lebih lemah lagi. Akibat dari peristiwa tersebut, ia tak lagi semangat dalam kuliah. Di pikirannya hanya ada wajah Mama yang menahan rasa sakit. Selalu begitu, dan ini berdampak ke akademisnya. Nilai IP-nya meluncur bak es kebawah. Maka, seharusnya ia berhasil menempuh 24 SKS, malah menjadi 21 SKS.

Ketika ia mencoba bangkit, ia malah mengalami hal yang sama. Di semester selanjutnya, ia tetap menempuh 21 SKS. Di dalam rasa itu, Sang Mama seperti mengerti ketakutan anaknya. Maka, Mama pun bertanya padanya, “Nduk, gimana rasanya kuliah? Kata  orang-orang kuliah itu susah?”

“Iya, Ma. Memang bikin kesel, apalagi tugasnya banyak. Dosen ini ngasik tugas, dosen lain ngasik tugas itu.”
“Apa kamu kuat, Nduk?”
“Kuat, Ma.”
Hanya kata itu yang bisa meluncur dari bibirnya.
“Lalu, bagaimana kuliahmu?”
“Ada beberapa matkul yang harus SP[1], Ma.”
“Kalau mau ambil SP, ambil saja. Nggak apa-apa meskipun SPP-nya bayar mahal, yang penting kamu ndang lulus.”

Gadis itu hanya mengangguk. Padahal, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Ia menyimpan sebuah rahasia besar. Memang SP harus ia jalani, tapi hanya untuk beberapa matakuliah yang mendapat nilai C, sedang beberapa matakuliah lainnya tidak ia tempuh. Dan itu tidak bisa di-SP, kecuali menempuh bersama adik angkatan.

Ah. Pada kenyataannya kuliah layar kaca dan bioskop yang begitu memperton-tonkan betapa mudahnya kuliah. Datang-pergi kampus, berpakaian bebas, hang out bareng teman,  bertemu kekasih, dan nggak banyak tugas. Tak ada sedikit pun adegan yang membahas betapa ribetnya mengerjakan tugas. Seperti misalnya mahasiswa jurusan eksak yang sedang mengadakan penelitian atau praktikum, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mengerjakan tugas analisis karya sastra dan lain-lain.

Ah. Kuliah. Ah. Ilmu dunia. Kuliah bak seleksi alam saja, di mana yang kuat bertahan akan menang. Yang pintar dan aktif di pembelajaran, dapat menempuh SKS yang banyak. Sedang untuk orang-orang yang memiliki kecerdasaan biasa-biasa, seperti tak pantas mengenyam bangku pendidikan tinggi.

Selain SKS yang ia tempuh tidak full, kini ketakutan lainnya juga datang. Ketika ia mengalami kecelakaan. Dan harus meninggalkan kuliah demi kesehatan beberapa waktu. Waktu yang biasa digunakan untuk menyimak presentasi teman dan penjelasan dosen hilang percuma. Dan, ketika ia mencoba untuk bangkit. Keluarganya terkena musibah, ada orang yang  sudah dianggap seperti saudara meminjam uang dengan nilai 200 juta kepada orangtuanya, sedang orang tersebut malah melarikan diri.

Sontak kejadian tersebut membuat gaduh isi rumah. Mama yang tak mengetahui jika Ayah meminjamkan uang tersebut kepada orang yang melarikan diri itu langsung menyalakan sosok Ayah. Mereka pun langsung mencari titik terang keberadaan orang tersebut. Alhasil, orang yang lari itu memiliki banyak utang di sana-sini. Dan berdasar keputusan, maka  orangtuanya mengadaikan surat tanah sebagai jaminan atas pinjaman orang tersebut.

Ah. Begitu mudah orang berhutang, tapi sulit untuk membayar. Kejadian ini membuat Gadis takut jika ekonomi orangtuanya turun. Apalagi uang duaratus juta tidak sedikit jumlahnya.

Selain ketakutan tersebut, ia juga merasakan jika dirinya adalah anak pertama. Dan memiliki seorang adik. Sebagai anak pertama, ia akan menjadi contoh untuk adiknya kelak. Maka, tidak ada waktu untuk berleha-leha. Ia mengubah pola hidupnya menjadi lebih terarah.

Semoga ia semakin bersemengat dalam mengejar mimpinya. Karena tidak butuh pintar untuk sukses. Tapi, kejernihan hati dan pikiran. Bismillah, bisa! No Excuse!
            Jember, 5 April 2015






[1] SP adalah semester pendek. Kegiatan yang biasanya dilakukan ketika libur semester, berkisar 2-3 bulan. Kegiatan di luar kuliah ini bertujuan untuk memperbaiki nilai kuliah.
Gadis yang Mengalami Pelbagai Kesedihan Gadis yang Mengalami Pelbagai Kesedihan Reviewed by Gusti Trisno on 07:48:00 Rating: 5
Powered by Blogger.