Sebuah Harapan di Tanah Rantau (Dimuat di Bangka Pos, Edisi 28 Oktober 2018)

--pariwara--
Ibuk masih tak mengubah sikap. Perempuan itu masih menampakkan rona sayang yang luar biasa kepada saya. Jika ada yang berubah kini darinya hanyalah waktu. Waktu yang berubah kian cepat. Seperti angin yang mengembus menerbangkan segenap dedaunan, lalu menerbangkan hujan ke berbagai tempat. Waktu itu pula membuat kebersamaan saya dan Ibuk kian bertambah. Pertambahan yang menuntut perubahan dalam menaiki tangga kehidupan.



Buah kerja keras Ibuk semakin terasa, tatkala saya bisa lulus sekolah dengan nilai terbaik. Lalu, empat hari setelah pengumuman kelulusan, ada pengumuman lain yang membuat bahagia menyesaki dada Ibuk.

Saya lulus pendaftaran SNMPTN yang artinya saya bisa masuk kuliah tanpa perlu memikirkan tes. Kondisi itu membuat Ibuk bahagia luar biasa. Kebahagiaannya benar-benar membuncah.

“Kuliahnya di Jember kan?”

Ibuk memastikan tempat kuliah saya.

Saya menatap perempuan berusia setengah abad itu. Kemudian, mengambil tangannya. Dan melihat garis tangannya. Garis tangan yang kian tak beraturan. Garis tangan yang tak lagi halus. Dan garis tangan yang tampak sekali sayatan-sayatan. Dari garis tangan itu saya mengetahui Ibuk begitu bekerja keras selama menghidupi saya. sekalipun saya bukan darah dagingnya sendiri.

“Bukan, Bu. Bukan Jember.”

Mendung bergelanyut di wajah Ibuk. Saya merasa bersalah dengan jawaban itu. Seharusnya saya memilih kuliah di Jember, apalagi jarak Situbondo-Jember tak begitu jauh. Berbeda dengan Surabaya yang membutuhkan waktu sekitar 5-7 jam. Belum lagi jarak yang terlampau jauh. Ah. Membayangkan kesalahan itu saya berharap bisa tak mengikuti proses daftar ulang. Kemudian, mengikuti tes SBMPTN dengan memilih kampus di wilayah Jember.

“Tidak apa-apa. Asalkan kamu jangan lupakan Ibuk.” Ungkap Ibuk membuat pikiran saya tak keruan.

Sungguh bagaimana mungkin, saya melupakan jasa Ibuk yang teramat tinggi dalam hidup saya. sejak meninggalnya Emmak, Ibuk menjadi obat sekaligus motivasi terkuat saya untuk bangkit. Ibuk juga membuat anak almarhumah sahabatnya ini menjadi sosok yang jauh lebih percaya diri dibandingkan sebelumnya.

Maka, saya tak perlu menjawab permintaan Ibuk dengan kata. Saya hanya perlu mencium pipih Ibuk dengan lembut.
***

Saya mempersiapkan keberangkatan dengan begitu teliti. Tak banyak barang yang akan saya bawa ke perantauan. Hanya berupa 5 stel kemeja, dua celana panjang kain, dua celana jeans, dua celana pendek, tiga sarung, dan lima kaos. Semuanya itu dimasukkan ke koper yang berukuran sedang.

“Bawa album kenangan juga ya!” Ibuk memberi pesan seusai saya memasukkan barang-barang itu ke dalam koper.

Koper yang sudah ditutup resletingnya itu kembali saya buka. Saya melihat album yang berisi foto-foto itu. Barangkali ada sekitar dua puluhan foto saya sejak kecil. Sejak saya masih memiliki keluarga lengkap. Sejak masih ada ayah yang terakhir saya temui saat umur empat tahun. Begitupun dengan kakak yang pergi di usia dua belas tahun. Juga, Emmak yang menambah daftar kehilangan orang-orang terkasih sejak SMA.

Kehilangan tiga orang itu benar-benar membuat nahas hidup saya. Pertama, ayah dan kakak yang meninggal secara bersamaan. Ayah yang berprofesi sebagai nelayan membuat kakak meminta izin ikut ke laut. Tersebab, karena kakak penasaran dengan kehidupan lautan. Apalagi banyak teman-temannya yang ikut orang tuanya saat melaut. Ayah yang awalnya tak mengizinkan, akhirnya memberi izin ketika kakak nangis dengan kencang. Permintaan kakak itu seolah-olah menjadi permintaan terakhir. Sebelum keduanya hilang dalam ombak yang begitu ganas ditambah puting beliung di tengah laut. Peristiwa hilangnya keduanya pun menjadi pemberitaan media nasional. Saya baru tahu hal itu, setelah beranjak remaja dan bisa mengenal internet. Sayangnya, ketika mengenal internet dan membuka hidup lebih baik. Peristiwa kedua menimpa saya. Saya kehilangan Emmak dengan cara nahas juga. Perempuan itu menjadi korban dari puluhan korban yang meninggal dalam peristiwa kecelakaan bus Kencana Senja jurusan Bali-Surabaya. Bedanya, jasad Emmak ditemukan, sedangkan ayah dan kakak masih menjadi misteri yang sulit terpecahkan.

Untungnya, selepas perginya Emmak ke Haribaan Sang Kuasa. Ibuk menawarkan keindahan dengan menjadi anak angkatnya. Sekalipun, kini saya harus meninggalkan perempuan yang begitu baik itu.

“Ya, bengong!” Ibuk memprotes setelah saya tak melakukan apa-apa. “Kamu perlu membawa potret keluarga. Agar ketika kamu hilang semangat. Kamu bisa melihat foto ini.”

Saya mengangguk atas saran Ibuk. Kemudian, saya tersenyum kepadanya. Senyum yang terbaik yang saya miliki.

“Makasih, Buk.” Ungkap saya.

Ibuk tak menjawab. Perempuan bersanggul itu hanya merapatkan tubuh saya ke tubuhnya. Saya dipeluk, tanpa banyak kata.

“Belajar yang rajin. Itu cara mudah bahagiakan Ibuk.”

Saya mengangguk. Lalu, berjanji dalam hati. Janji yang tak akan pernah saya ingkari.
***

Saya diantar Ibuk ke Surabaya. Dari Situbondo kami bisa memilih dua pilihan bus, yakni jurusan Madura atau Surabaya langsung. Kedua bus itu harganya sama saja, hanya pembedanya tujuan akhir.

Kami pun tak ambil pusing antara dua opsi ini. Hanya saja, kebetulan jadwal keberangkatan saat kami tiba di Terminal Situbondo adalah bus jurusan Surabaya. Tentu, kami langsung naik. Dan memilih duduk di kursi yang hanya terdiri dari dua penumpang.

Tak butuh waktu lama agar bus ini berjalan. Hanya kurang dari lima menit saat saya duduk di atasnya. Bus ini langsung berjalan meninggalkan terminal menuju Surabaya setelah melewati Probolinggo, Pasuruan, dan Mojokerto. Keberangkatan yang pagi sekitar jam enam membuat saya dan Ibuk sampai di Surabaya tepat saat azan Zuhur berkumandang.

Kami segera menuju ke arah Lidah Wetan dengan menggunakan trayek bus dalam kota. Surabaya menyambut kami dengan nyala udara yang sedemikian panas. Melebihi panas Situbondo saat musim panas. Kondisi itu membuat tetesan keringat benar-benar mengenai saya dan Ibuk. Untungnya, Ibuk tak protes atas hal itu.

Tak hanya itu, Surabaya menyambut kami dengan kemacetan yang luar biasa. Tetapi, kemacetan itu tak membuat semraut seperti yang dilhat di layar kaca. Pasalnya, puncak kemacetan di ibukota provinsi ini terjadi di sekitar lampu merah saja.

Trayek bus ini pun dengan sukses membawa kami berkendara menuju Jalan Wonokromo dan Jalan Raya Lontar sebelum akhirnya tiba di Kampus Lidah Wetan Unesa. Dari kampus itulah perburuan kami dimulai mencari indekos yang tepat.

Kost di Surabaya itu memiliki berbagai tipe sesuai dengan keinginan dan dana yang dimiliki calon penghuninya. Ibuk pun tak memberikan sedikit pun petuah atas kos yang pas digunakan untuk belajar. Dari sana, saya melihat Ibuk memberikan kebebasan. Apalagi, kost bukan sekadar tempat tidur, tetapi juga tempat untuk mengerjakan tugas kuliah dan bercengkrama dengan teman-teman nantinya.

Maka, saya pun berusaha mencari informasi kost lewat aplikasi. Dari aplikasi yang saya unduh di Playstore, saya memiliki minat atas sebuah kos yang beralamat di Wiyung. Memang jaraknya dengan kampus Unesa sekitar 1,4 kilometer. Tetapi, entah mengapa saya tertarik karena reviewnya yang begitu dekat dengan ATM, apotek, klinik, pusat perbelanjaan, masjid, gereja dan tentu Unesa sendiri. Hal-hal seperti itu akan menunjang keseharaian saya di tanah rantau.

Pun, ketika menjumpai kos berwarna hijau itu, saya langsung jatuh hati. Ibuk mengalami hal yang sama. Maka transaksi berupa kesepakatan terjadi.

Ibuk langsung membayar sejumlah tiga bulan ke depan. Saya dan Ibuk diantar pemilik kos ke kamar yang terletak di lantai dua. Menurut ibu pemilik kost, saya termasuk orang yang beruntung sebab kamar hanya tinggal satu. Apa pun itu, bagi saya pernyataan itu begitu klise. Dan tak perlu diungkapkan. Sebab, sekalipun kamar ini full, toh saya bisa mencari kamar di tempat lain. Sekalipun agak repot juga sih.

“Silakan masuk. Semoga betah.” Ucap ibu pemilik kost menyilakan kami, lalu pergi dengan meninggalkan kunci.

Saya memandang kamar kos yang berukuran 3 X 3 meter ini. Kamar ini tak cukup luas jika dibandingkan kamar saya. tetapi, terasa nyaman. Apalagi, kamar ini memiliki dua kipas angin yang sanggup untuk mengusir panasnya Kota Surabaya.

Saya pun segera menata barang-barang yang berada di dalam koper. Ibuk tak membantu. Perempuan itu teramat letih. Buktinya, ia langsung tepar di kasur yang begitu tampak empuk.

Satu per satu barang saya keluarkan. Lalu, saya masukkan lemari. Barulah, ketika melihat potret keluarga saya yang masih lengkap waktu itu. Mendadak saya menangis. Tangisan yang begitu lirih. Saya tak mau kesedihan saya dirasakan Ibuk. Makanya, tangisan saya pelankan.

Saya berjanji akan membeli dua pigura. Pigura pertama untuk foto keluarga lengkap. Dan pigura kedua foto saya dan Ibuk. Kedua foto itu akan saya pajang di dinding kamar. Agar saya bisa memandang sumber semangat saya.

“Saya akan menjadi kebanggan bagi kalian semua,” ucap saya penuh optimis.

Seusai menyusun semua hal-hal remeh itu, saya memilih merebahkan tubuh di samping Ibuk. Dari tubuh Ibuk yang tampak nyenyak dalam tidurnya, saya memiliki harapan yang teramat sangat di tanah rantau. Harapan untuk tidak sekadar impian, tapi mimpi yang harus segera diwujudkan.
            29-09-2018 22:47
Sebuah Harapan di Tanah Rantau (Dimuat di Bangka Pos, Edisi 28 Oktober 2018) Sebuah Harapan di Tanah Rantau (Dimuat di Bangka Pos, Edisi 28 Oktober 2018) Reviewed by Dunia Trisno on 08:00:00 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.